Samarinda, VivaNusantara – Upaya memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan kini mulai bergerak lewat pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP). Program yang digagas Pemerintah Kota Samarinda ini menjadi wadah baru bagi warga untuk membangun kemandirian ekonomi secara kolektif, tanpa terlalu bergantung pada sektor formal dan ritel besar.
Sejak pertama kali diperkenalkan, program KKMP menunjukkan perkembangan cukup cepat. Hingga kini sudah ada 59 koperasi yang memiliki badan hukum.
Salah satu yang dianggap paling siap adalah KKMP Lempake, yang dijadikan proyek percontohan untuk menguji model koperasi kelurahan. Terbukti saat ini KKMP Lempake telah mengelola unit usaha sembako dan distribusi gas elpiji bersubsidi bagi warga sekitar.
Meski kapasitasnya masih terbatas, koperasi tersebut mulai membuktikan peran nyatanya dalam menekan ketergantungan masyarakat pada rantai distribusi besar. Pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan usaha peternakan domba, namun pelaksanaannya menunggu kejelasan pemanfaatan lahan milik pemerintah kota.
Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Samarinda, Jusmaradhana Alus, mengatakan bahwa Lempake dijadikan lokasi awal untuk menguji efektivitas model ekonomi kelurahan. Dari situ, pemerintah dapat menilai sejauh mana pola kerja koperasi ini bisa diterapkan di wilayah lain.
“KKMP Lempake kami jadikan titik awal untuk melihat pola pengelolaan dan potensi replikasinya. Untuk rencana usaha peternakan, kami masih identifikasi lahan yang bisa dimanfaatkan secara legal dan berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Hasil evaluasi tahap pertama menunjukkan beberapa KKMP memiliki kesiapan kelembagaan dan rencana bisnis yang matang. Karena itu, Pemkot Samarinda menetapkan 11 koperasi sebagai pilot project pendampingan lanjutan, sementara empat lainnya masih harus melengkapi sejumlah persyaratan administratif.
“Pendampingan ini penting agar koperasi tidak hanya berdiri di atas kertas. Kami ingin mereka benar-benar beroperasi sesuai kebutuhan ekonomi masyarakat di wilayahnya,” tegas Jusmaradhana.
Berbeda dari koperasi konvensional, KKMP memiliki konsep keanggotaan berbasis kelurahan, sehingga pengelolaan usaha diarahkan pada kebutuhan riil warga setempat. Dengan pembatasan ini, koperasi diharapkan menjadi pusat ekonomi kecil yang dinamis, dari distribusi sembako, layanan gas elpiji, hingga ke depan bisa membuka usaha farmasi atau praktik kesehatan lokal.
“Kami ingin koperasi tumbuh sesuai karakter wilayahnya. Jadi yang dikelola bukan hanya barang kebutuhan pokok, tapi bisa juga layanan lain selama relevan dan berbasis komoditas lokal,” jelasnya.
Data 11 KKMP yang ditetapkan sebagai percontohan lanjutan:
1. KKMP Rapak Dalam
2. KKMP Sungai Kapih
3. KKMP Sido Damai
4. KKMP Sidodadi
5. KKMP Mangkupalas
6. KKMP Karang Asam Ulu
7. KKMP Bugis
8. KKMP Rawa Makmur
9. KKMP Loa Bakung
10. KKMP Gunung Lingai
11. KKMP Handil Bakti
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa