Home DaerahKota SamarindaMBG Berjalan di Dapur SPPG Bugis, Fimizoe Libatkan Juru Masak Bersertifikat

MBG Berjalan di Dapur SPPG Bugis, Fimizoe Libatkan Juru Masak Bersertifikat

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur tidak hanya bergantung pada distribusi bahan pangan, tetapi juga pada kualitas pengelolaan dapur yang menyiapkan menu harian untuk peserta didik. Di sejumlah daerah, Yayasan Fimizoe menjadi salah satu pihak yang mengambil peran dengan membangun dapur berstandar sertifikasi tenaga kerja dan sistem manajemen produksi berbasis digital.

Ketua Yayasan Fimizoe, Fitriana, menjelaskan bahwa pihaknya mengelola lima dapur aktif di Kaltim, masing-masing dua di Bontang, dua di Kutai Kartanegara, dan satu di Samarinda yang berlokasi di SPPG Bugis, Go Mall. Semua dapur tersebut, menurutnya, beroperasi dengan standar ketat yang mengacu pada regulasi Badan Gizi Nasional (BGN).

Langkah cepat diambil setelah BGN mewajibkan setiap dapur memiliki juru masak bersertifikat. Yayasan Fimizoe kemudian menggandeng instruktur dari Jakarta dan bekerja sama dengan BGN untuk mengadakan pelatihan intensif. Dari hasil itu, kini telah ada sekitar 70 juru masak bersertifikat yang siap ditempatkan di berbagai SPPG binaan mereka.

“Setiap dapur kami pastikan dikelola tenaga lokal dan bersertifikat. Di satu dapur saja, bisa melibatkan hampir 50 pekerja mulai dari koki, asisten, hingga penjamah makanan,” terang Fitriana, Jumat (7/11/2025).

Ia mencontohkan dapur SPPG Bugis di Samarinda yang mempekerjakan 32 tenaga kerja dengan 10 juru masak dan 36 penjamah makanan bersertifikat.

Tidak berhenti di produksi, dapur Fimizoe juga berfungsi sebagai pusat pelatihan. Di tempat itu, para calon chef dan pengelola SPPG lain diajarkan teknik memasak sehat, prinsip sanitasi, dan manajemen dapur profesional. Semua proses pengolahan dilakukan dengan sistem dapur bersih, bahan sayur masuk sudah dalam kondisi siap olah sehingga limbah bisa ditekan seminimal mungkin.

Sebagai bentuk modernisasi, Yayasan Fimizoe juga memperkenalkan inovasi berbasis teknologi lewat aplikasi “Kalkulator Gizi” hasil kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui sistem ini, pengelola dapur bisa menghitung kebutuhan bahan baku, nilai gizi, hingga estimasi biaya secara otomatis.

“Aplikasi ini membuat pekerjaan jauh lebih cepat dan akurat. Kami tinggal masukkan menu, sistem langsung menghitung kandungan gizi dan bahan yang dibutuhkan,” jelas Fitriana.

Ia berharap sistem digitalisasi dapur sehat yang diterapkan Fimizoe dapat menjadi model di seluruh Kalimantan Timur. Selain itu, yayasan yang ia pimpin juga siap mendampingi lembaga lain dalam proses sertifikasi halal maupun sertifikasi penjamah makanan.

“Program MBG harus memberi rasa aman dan sehat. Bukan sekadar enak, tapi juga memenuhi standar keamanan pangan nasional,” tutupnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like