Home DaerahKota SamarindaMeja Makan, Tawa Ringan, dan Cara Isran Noor Menjawab Sorotan Publik

Meja Makan, Tawa Ringan, dan Cara Isran Noor Menjawab Sorotan Publik

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Malam itu, udara Samarinda berhembus lembut. Lampu-lampu rumah Isran Noor menyala temaram, menciptakan suasana hangat yang mengundang siapa saja untuk duduk dan berbagi cerita. Senja telah lama tenggelam, langit berwarna jingga keunguan menjadi latar tenangnya kediaman mantan Gubernur Kaltim itu.

Begitu kami tiba, suasana terasa rileks namun penuh antusias. Isran Noor menyambut dengan senyum ramah dan jabat tangan hangat—gestur sederhana yang menghadirkan rasa nyaman. Di luar, kabar tentang pemeriksaan Kejaksaan Tinggi Kaltim (Kejati) terus berembus. Namun di dalam rumah, ia tetap tampak tenang, seolah semua hiruk pikuk pemberitaan hanyalah riak kecil di permukaan.

Ruang tamu tertata rapi. Sofa abu-abu berpadu dengan bantal magenta, menyambut kami bersama secangkir teh panas yang mengepulkan aroma manis. Tapi tak lama kami duduk, Isran yang dikenal lugas dan ceplas-ceplos segera mengajak kami bergeser.
“Ayo langsung makan, biar ngobrolnya lebih enak,” ucapnya santai.

Di meja makan berwarna putih, hidangan sederhana tersaji: ikan kuah kuning, ayam goreng, sayur bening yang masih mengepul, dan sambal pedas yang membuat suasana kian akrab. Hidangan itu bukan soal menu, melainkan tentang kebersamaan. Tawa ringan mengiringi setiap suapan, diselingi cerita masa lalu dan guyonan khas Isran yang membuat meja makan malam itu penuh kehangatan.

Namun percakapan akhirnya mengalir ke topik yang tak bisa dihindari. Dengan hati-hati kami bertanya, “Pak, bagaimana dengan pemeriksaan Kejati terkait DBON? Apakah itu membebani Bapak?”

Isran Noor berhenti sejenak, mengangkat bahu, lalu tersenyum tipis. Suaranya pelan tapi mantap.
“Gak papa, aman aja. Gausah takut, kan ga salah,” jawabnya.

Tak ada nada defensif, tak ada kesan mengelak. Ia memilih menanggapi sorotan hukum dengan santai, menegaskan keyakinannya bahwa kebenaran akan berpihak pada yang tidak bersalah.

Malam itu ditutup dengan tawa dan obrolan ringan. Di balik riuh isu dan headline berita, rumah Isran Noor justru memancarkan ketenangan. Hangatnya meja makan sederhana menjadi saksi, bahwa di tengah pusaran sorotan publik, ia masih menempatkan kebersamaan sebagai ruang perhentian yang menenangkan.
Seperti diketahui hari itu, Senin (22/9/2025), Isran datang memenuhi panggilan penyidik. Sejak pagi hingga sore, ia duduk di ruang pemeriksaan. Hampir tujuh jam lamanya. Di luar, puluhan wartawan menunggu, menyiapkan kamera dan alat rekam, berharap mendapat sepatah dua patah kata dari tokoh yang selalu jadi pusat perhatian.

Ketika akhirnya pintu terbuka, Isran muncul dengan wajah yang sama seperti biasanya: santai. Senyumnya lebar, matanya menyapu sekeliling, lalu ia melangkah perlahan menuju kerumunan jurnalis. Tak ada raut tegang. Tak ada nada gusar.

“Betul, saya diminta keterangan terkait DBON Kaltim. Dan yang kedua tentang pengelolaan KTE Kutai Timur, itu sudah lama sekali,” katanya ringan, di hadapan wartawan seakan pemeriksaan seharian itu hanyalah pertemuan biasa.

Sesekali, ia menepuk pundak seorang kolega yang mendampinginya. Suasana yang biasanya kaku dalam kasus hukum berubah cair. “Gak masalah, kita kasih penjelasan kepada aparat kejaksaan,” lanjutnya.

Isran juga sempat terkekeh ketika ditanya jumlah pertanyaan yang diajukan penyidik. “Saya lupa, banyak sekali. Tapi yang saya ingat, soal tugas dan SK DBON. Ya, ditanyakan tugas sebagai gubernur yang menandatangani SK DBON. Yang lain juga banyak. Gak papa, bagus saja.”

Jawaban-jawaban itu justru membuat suasana di pelataran Kejati sedikit mencair. Wartawan yang sejak pagi menunggu mendapat bahan berita, dan Isran sendiri tetap tampil sebagai sosok yang enggan kehilangan kendali atas narasi.

Di balik pernyataan tenang itu, kasus DBON memang tengah jadi bola panas. Dua nama besar sudah lebih dulu ditetapkan tersangka: Agus Hari Kesuma, Kepala Dispora Kaltim, serta Zairin Zain, Ketua Pelaksana Sekretariat DBON Kaltim. Dana hibah ratusan miliar rupiah dalam program Desain Besar Olahraga Nasional kini dipertanyakan transparansinya.

Namun, sore itu, yang tampak bukan sekadar proses hukum. Melainkan potret seorang mantan gubernur yang berusaha menghadapi badai dengan kepala tegak. Saat sebagian orang sibuk berspekulasi, ia justru memilih mengakhiri harinya dengan senyum, menyapa wartawan, dan melangkah pergi dengan langkah yang tak terburu.

Samarinda mendung. Jalanan basah. Tetapi di wajah Isran Noor, tetap ada ketenangan yang sulit diabaikan.

Penulis: Intan
Editor : TW

You may also like