Home DaerahKota SamarindaMengenal Perbedaan Sekolah Unggulan, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Internasional

Mengenal Perbedaan Sekolah Unggulan, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Internasional

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Masyarakat kini dihadapkan pada berbagai pilihan model sekolah. Mulai dari Sekolah Unggulan, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Internasional. Ketiganya sama-sama mengusung visi kualitas, namun berbeda dari segi akses, kurikulum, biaya, dan segmentasi peserta didik.

Dimulai dengan sekolah unggulan, sebagai institusi pendidikan negeri atau swasta yang ditetapkan oleh pemerintah atau yayasan karena memiliki fasilitas, guru, dan capaian akademik di atas rata-rata. Di Kalimantan Timur, contohnya adalah SMAN 10 Samarinda dan SMAN 3 Tenggarong, yang belum ini ditetapkan sebagai sekolah unggulan daerah.

Total anggaran awal untuk sekolah ini sebesar Rp 2 triliun, namun terpangkas 60 persen karena efisiensi APBN. Untuk itu saat ini anggarannya menjadi Rp800 miliar.

Karakteristik sekolah unggulan itu sendiri diantaranya, seleksi masuk cenderung ketat, baik akademik maupun non-akademik. Lalu diperkuat dengan guru-guru berkompetensi tinggi dan fasilitas lengkap, berbasis kurikulum nasional plus. Selain itu ditujukan untuk membina siswa-siswa berprestasi, tanpa memandang latar belakang ekonomi.

Kemudian Sekolah Rakyat, sebagai terobosan terbaru dari pemerintah pusat, ditujukan khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Menariknya, meski menyasar siswa dari kelompok terbawah, sekolah ini dibekali fasilitas kelas atas dan kurikulum nasional plus.

Contohnya di Samarinda, sekolah rakyat pertama dibangun di Palaran, dengan anggaran Rp280 miliar. Siswa mendapat seragam, laptop, tas, hingga makan siang, semua dari pemerintah.

Per siswa per tahun Rp 48,2 juta, mencakup seragam, laptop, sepatu, makan, dan biaya operasional sekolah. Biaya total program sebesar Rp 2,3 triliun, berdasarkan asumsi untuk 100 lokasi di tahun ajaran 2025-2026, untuk sekitar 8.850 siswa. Komponen pendanaan ini termasuk sarana dan prasarana Rp 487 miliar, guru Rp 1,11 triliun serta operasional dan dukungan totalnya Rp 304 miliar.

Adapun karakteristik diantaranya, siswa direkrut berdasarkan verifikasi DTKS nasional Desil I dan II. Gratis 100 persen dari biaya sekolah, seragam, alat tulis hingga konsumsi. Dibangun setara sekolah unggulan, tapi hanya untuk siswa berstatus miskin ekstrem. Dan terakhir, fokus pada keadilan sosial, bukan sekadar pengajaran.

Sedangkan Sekolah Internasional, yang hadir sebagai alternatif premium yang ditujukan bagi siswa yang ingin memperoleh pendidikan bertaraf global. Umumnya menggunakan kurikulum asing seperti Cambridge, IB (International Baccalaureate), atau IGCSE.

Di Samarinda, sekolah internasional ini diberi nama SMA Prestasi, berlokasi di kawasan eks SMP Negeri 16, Jalan Jakarta, Kecamatan Sungai Kunjang.

Karakteristiknya yaitu biaya pendidikan relatif sangat tinggi, bisa mencapai puluhan juta rupiah per tahun. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya serta tenaga pengajar kadang berasal dari luar negeri. Fokus pada kompetensi global, kreativitas, dan kemandirian dan sekolah ini cocok bagi anak diplomat, ekspatriat, atau keluarga berorientasi pendidikan luar negeri.

Sekolah unggulan, sekolah rakyat, dan sekolah internasional pada dasarnya dirancang dengan tujuan akhir yang sama, mencetak generasi unggul. Bedanya terletak pada siapa yang disasar, bagaimana pendekatannya, dan siapa yang membiayai.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like