Samarinda, VivaNusantara — Produk tenun khas Kalimantan Timur dari kelompok usaha Pokan Takaq, berhasil menarik perhatian pasar internasional. Mengangkat budaya suku Dayak Benua, kelompok ini memproduksi berbagai kerajinan berbahan serat daun doyo yang telah dikenal sebagai warisan budaya tak benda.
Didirikan oleh Imam Rojiki dan Hamidah pada tahun 2009, Pokan Takaq merupakan usaha keluarga yang berlokasi di Tenggarong. Nama “Pokan Takaq” sendiri berasal dari bahasa Dayak Benuaq, yang berarti “keluarga kita”. “Semua pengrajin di sini, bagian dari keluarga besar kami,” ujar Owner Pokan Takaq Imam Rojiki saat ditemui dalam sebuah pameran, Sabtu (21/6/2025).
Produk unggulan Pokan Takaq meliputi tiga jenis tekstil tradisional, yaitu tenun ulap doyo, songket badong, dan sulam tumpar. Ulap doyo dibuat dari serat daun doyo, sedangkan badong merupakan jenis songket khas Dayak Benua. Adapun sulam tumpar merupakan karya sulaman tangan dengan motif-motif etnik yang kaya filosofi.
Tak hanya diminati pasar lokal, karya-karya dari Pokan Takaq telah menembus pasar internasional seperti Jepang, Jerman, Perancis, dan Australia. Pada tahun 2018, produk mereka bahkan masuk dalam 10 besar kategori kerajinan ramah lingkungan dan pemberdayaan perempuan dalam ajang New York Now, sebuah pameran desain bergengsi di Amerika Serikat.
“Kami juga telah bermitra dengan Bina Bank Indonesia dan kerajinan kami tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda. Ini membuat kami kerap diundang dalam berbagai pameran budaya,” tambah Imam.
Yang menarik, sebagian besar pengrajin yang terlibat adalah perempuan, termasuk lansia yang dulunya dianggap tak lagi produktif. Di tangan Pokan Takaq, mereka justru diberdayakan dan diberi ruang untuk tetap berkarya.
Proses produksi tenun dilakukan secara tradisional, mulai dari memintal benang, menenun, hingga menyulam, memakan waktu antara dua hari hingga dua minggu. Hal ini menjadikan produk mereka bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memuat cerita, ketekunan, dan kearifan lokal.
Hingga kini, Pokan Takaq terus menenun identitas dan kekayaan lokal ke dalam setiap helai karyanya membuktikan bahwa dari sebuah ruang kecil di Tenggarong, kain tradisional bisa menjelajah dunia.
Penulis: Intan
Editor: Lisa