Sekolah Lansia, Cara Baru Samarinda Menyemai Peran Aktif Usia Senja dalam Keluarga
Samarinda, VivaNusantara — Upaya membangun keluarga tangguh di Kota Samarinda kini merambah seluruh lapisan usia. Termasuk para lansia yang selama ini terpinggirkan dari panggung pembangunan sosial.
Melalui program Quick Win 2025, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda menghadirkan Sekolah Lansia sebagai inovasi terbaru untuk meningkatkan kualitas hidup warga lanjut usia agar tetap sehat, aktif, dan mandiri dalam lingkup keluarga maupun masyarakat.
“Lansia bukan sekadar objek pelayanan, tapi bisa menjadi subjek pembangunan keluarga,” ujar Waode Rosliani, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Samarinda, saat ditemui pada Rabu (21/5/2025).
Program ini bagian dari pendekatan berbasis siklus kehidupan yang menempatkan lansia sebagai bagian integral dalam pembangunan keluarga. Formatnya dirancang edukatif namun ringan, dengan materi meliputi kesehatan fisik dan mental, keterampilan hidup, hingga penguatan spiritual dan sosial.
“Banyak lansia yang merasa tidak berkontribusi atau terpinggirkan, padahal mereka masih bisa produktif. Lewat Sekolah Lansia, mereka bisa mendapat ruang untuk belajar, berkegiatan, dan saling menguatkan,” tambah Waode.
Mengacu pada data Bappenas per tahun 2024, Indonesia telah memasuki fase ageing society, dengan lebih dari 11,8% penduduknya berusia 60 tahun ke atas. Kementerian Kesehatan pun mencatat bahwa lebih dari 45% lansia mengalami gangguan kesehatan kronis dan tidak sedikit yang terpapar masalah sosial akibat keterbatasan fisik atau dukungan keluarga yang menurun.
Melalui Sekolah Lansia, DPPKB Samarinda berharap dapat menekan potensi marginalisasi sosial tersebut sekaligus membuka peluang partisipasi lansia dalam kegiatan yang bermakna. DPPKB juga akan melibatkan penyuluh lapangan serta kader dari kalangan muda seperti PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) untuk menjembatani komunikasi antargenerasi.
“Kami nanti akan menggaet dari PIK-R, dari Gen-Z dan milenial, supaya bisa tercipta ruang belajar dua arah antara generasi tua dan muda,” jelas Waode.
Program Sekolah Lansia ini menjadi salah satu strategi Quick Win DPPKB Samarinda di tahun ini. Tujuannya untuk memberikan hasil konkret dalam waktu singkat, dengan efek jangka panjang yang berkelanjutan.
Program lain dalam kerangka ini meliputi Gempar Seribu HPK (Gerakan Edukasi dan Motivasi Pengasuhan Aktif dan Responsif pada Seribu Hari Pertama Kehidupan), penguatan program Bina Keluarga Balita dan Bina Keluarga Remaja, Kelas Remaja, serta pelibatan Duta GenRe dari kalangan mahasiswa yang terpilih secara tahunan.
“Pembangunan keluarga harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada satu kelompok usia saja. Mulai dari remaja, pasangan usia subur, hingga lansia, semuanya perlu mendapatkan perhatian sekaligus,” tegas Waode.
Penulis: Intan
Editor: Lisa