Samarinda, VivaNusantara — Konsumsi mi instan hingga tiga kali seminggu kini disorot sebagai potensi risiko kesehatan serius. Studi terbaru menunjukkan bahwa di Jepang, mereka yang makan mi instan (ramen) tiga atau lebih kali seminggu memiliki risiko kematian sekitar 1,52 kali dibandingkan yang makan hanya satu-dua kali seminggu. Walaupun belum dibuktikan bahwa mi instan langsung menyebabkan kematian, para ahli setuju bahwa konsumsi yang sering dan jangka panjang dapat memicu penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Peringatan ini sejalan dengan temuan Harvard School of Public Health, yang menyebut konsumsi mi instan lebih dari dua kali seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko metabolic syndrome sebuah kondisi pemicu penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
“Mi instan tinggi natrium, lemak jenuh, dan sangat rendah serat. Konsumsi lebih dari dua kali seminggu meningkatkan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan,” kata peneliti Harvard, Hyun Shin, dikutip The Washington Post (2014).
Selain itu, Jurnal Journal of Nutrition (2017) menemukan konsumsi mi instan berlebihan memicu peningkatan C-reactive protein (CRP), indikator peradangan tubuh yang berkaitan dengan risiko kematian dini.
Studi kohort di Prefektur Yamagata (Jepang) melibatkan 6.725 peserta usia ≥ 40 tahun. Mereka yang makan ramen lebih dari 3 kali setiap minggu menunjukkan peningkatan risiko kematian (HR ~1,52) dibanding kelompok makan 1 sampai 2 kali per minggu. Penelitian Korea menemukan bahwa konsumsi mi instan lebih dari 2 kali per minggu dikaitkan dengan prevalensi sindrom metabolik pada perempuan, dengan OR 1,68 (95% CI 1,10–2,55).
Menurut data World Instant Noodles Association (WINA), Indonesia mencatat konsumsi ≈14.680 juta porsi (14,68 miliar) mi instan pada 2024. Per kapita, Indonesia mengonsumsi sekitar 19 porsi per orang per tahun (data 2025). Pasar mi instan Indonesia terus tumbuh, didorong oleh gaya hidup praktis dan urbanisasi.
Kebiasaan anak kos yang sering makan mi instan karena murah, praktis, dan mudah dimasak, menjadikan kelompok ini sangat rentan terhadap pola konsumsi lebih dari 2 sampai 3 kali setiap minggu. Dengan konsumsi tinggi natrium, lemak jenuh, serta gaya hidup yang mungkin kurang aktif atau kurang mengonsumsi sayuran, risiko jangka panjang menjadi lebih nyata.
Mi sendiri berakar dari Tiongkok kuno dan telah bertransformasi menjadi ikon pangan cepat saji global. Sedangkan mi instan ditemukan oleh Momofuku Ando di Jepang pada tahun 1958 sebagai solusi pangan murah dan tahan lama.
Jika Anda rutin makan mi instan lebih dari 3 kali per minggu dan pola hidup Anda mencakup aktivitas fisik rendah, tidur tidak cukup, atau konsumsi kuah mi penuh maka risiko gangguan kesehatan jangka panjang memang meningkat.
Para ahli merekomendasikan agar konsumsi mi instan dibatasi, dan diet diperkaya dengan sayuran, telur, tahu atau tempe serta mengurangi kuah untuk menekan asupan garam.
Penulis: Intan
Editor: Lisa