Home DaerahKota SamarindaToleransi Tak Cukup Diajarkan, Pelajar Fastabiqul Khairat Diajak Mengenal Perbedaan

Toleransi Tak Cukup Diajarkan, Pelajar Fastabiqul Khairat Diajak Mengenal Perbedaan

by Redaksi
0 comments

Samarinda VivaNusantara.id — Toleransi tidak cukup hanya diajarkan melalui teori. Para pelajar SD Fastabiqul Khairat Samarinda diajak mengenal keberagaman agama secara langsung melalui kunjungan ke Religi Center di Lok Bahu, Sungai Kunjang, Rabu (16/9/2026).

Selama dua jam, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 Wita, para siswa melihat berbagai miniatur rumah ibadah sekaligus berdialog dengan para pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Samarinda.

Ketua FKUB Samarinda, Syaparudin (berdiri tengah) bersama pemimpin agama lainnya saat melayani pelajar SD Fastabiqul Khairat dalam kunjungan ke Religi Center, Lok Bahu, Sungai Kunjang, Rabu (16/9/2026).

Rasa ingin tahu para pelajar terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan. Mereka mengenal nama rumah ibadah, kitab suci, nabi, hingga salam yang digunakan dalam berbagai agama.

Ketua FKUB Samarinda H. Syaparudin mengatakan, pengalaman langsung penting agar anak-anak memahami bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Samarinda.

“Anak-anak perlu mengenal perbedaan sejak dini agar terbiasa menghargai dan menghormati satu sama lain,” kata Syaparudin.

Menurutnya, pendidikan toleransi tidak berhenti pada mengenal perbedaan agama. Anak-anak juga perlu memahami bahwa perbedaan tidak menghalangi mereka untuk berteman, bekerja sama dan hidup berdampingan.

Anggota FKUB Samarinda dari perwakilan umat Konghucu, William, saat memberikan pelayanan kepada para siswa SD Fastabiqul Khairat di Religi Center, Lok Bahu, Sungai Kunjang.

“Berbeda agama bukan alasan untuk tidak bekerja sama. Justru sejak dini mereka perlu belajar rukun dalam perbedaan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, FKUB menghadirkan perwakilan berbagai agama. Dari unsur Islam hadir H. Syaparudin, Ir. H. Masumi dan Drs. H. Tejo Sutarnoto, SH, M.Si. Unsur Kristen diwakili Pdt. Dr. Marson Apui, Katolik oleh Romo Hibau, Hindu oleh I Made Waharika, Buddha oleh Kuswanto, serta Khonghucu oleh William.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang dialog sederhana antara pelajar dan para pemimpin agama. Para siswa tidak hanya melihat simbol keberagaman, tetapi juga mendapat kesempatan bertanya dan berdiskusi secara langsung.

FKUB Samarinda berharap pengenalan keberagaman dapat menjadi kebiasaan sejak usia sekolah. Dari ruang belajar yang sederhana, anak-anak dikenalkan pada nilai saling memahami, menghargai dan menghormati perbedaan.

Toleransi pun bukan sekadar slogan, tetapi kebiasaan yang dibangun sejak dini.(*)
Editor : TW

You may also like