Serang, VivaNusantara — Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 yang diraih Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun, bukan sekadar penghargaan simbolik.
Penghormatan yang diserahkan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten itu menjadi penegasan atas arah kepemimpinan daerah yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.
Penghargaan prestisius dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat tersebut diberikan atas konsistensi Pemerintah Kota Samarinda dalam merevitalisasi Sarung Samarinda—bukan hanya sebagai wastra tradisional, tetapi sebagai identitas budaya yang hidup, berdaya saing, dan terhubung dengan ekonomi kreatif.
Trofi Abyakta sendiri dimaknai sebagai pengakuan terhadap kepala daerah yang tidak berhenti pada narasi pelestarian, tetapi menghadirkan kebudayaan dalam kebijakan konkret.
Rangkaian Anugerah Kebudayaan PWI Pusat diawali dengan Dialog Kebudayaan, Minggu (8/2/2026), di Hotel Horison UPI Serang, Banten. Forum ini mempertemukan kepala daerah, insan pers, dan pegiat budaya dari berbagai penjuru Indonesia.
Pemerintah Kota Samarinda diwakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. H. Asli Nuryadin, yang memaparkan langkah strategis Pemkot dalam menjaga kesinambungan Sarung Samarinda sebagai warisan budaya.
Ia menjelaskan, Sarung Samarinda telah dikenal sejak 1668, menjadikannya salah satu wastra tradisional tertua di Nusantara dengan nilai historis, sosial, sekaligus ekonomi.
“Motif Sarung Samarinda memiliki karakter yang sejajar dengan kain-kain yang berkembang di dunia fashion internasional. Ini bukti bahwa kearifan lokal punya potensi global,” ujarnya.
Sebagai bentuk keberpihakan kebijakan, Pemerintah Kota Samarinda mendorong penggunaan batik bermotif Sarung Samarinda di lingkungan pendidikan pada hari-hari tertentu. Langkah ini dipandang sebagai upaya sistematis menanamkan identitas budaya kepada generasi muda sejak dini.
Namun demikian, ia menegaskan perlunya dukungan berkelanjutan, baik dari sisi pendanaan, infrastruktur, maupun kolaborasi lintas sektor. Penguatan pendidikan vokasi, khususnya SMK berbasis desain dan kriya, dinilai krusial agar inovasi Sarung Samarinda terus berkembang.
Direktur Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyampaikan bahwa Trofi Abyakta diberikan melalui seleksi nasional ketat. Kepala daerah penerima dinilai mampu menjadikan kebudayaan sebagai arus utama kebijakan publik, bukan sekadar pelengkap agenda pembangunan.
Puncak peringatan HPN 2026 sekaligus penyerahan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat digelar Senin (9/2/2026) di Lapangan Masjid Al-Bantani, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten.
Acara tersebut dihadiri Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mewakili Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Gubernur Banten Andra Soni, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan pimpinan lembaga negara.
Ketua PWI Pusat, Muhammad Munir, menegaskan bahwa penghargaan Abyakta merupakan bentuk tanggung jawab moral pers dalam mengapresiasi kepemimpinan daerah yang menjaga tradisi, memajukan kebudayaan, dan melibatkan masyarakat secara aktif.
Andi Harun menerima Trofi Abyakta atas inovasi kebudayaan bertajuk “Dari Wastra Lokal Menuju Kebudayaan Nasional”, sebuah konsep yang menempatkan Sarung Samarinda sebagai simpul antara tradisi, kebijakan publik, dan ekonomi kreatif.
Penghargaan ini sekaligus menegaskan posisi Samarinda sebagai salah satu daerah yang serius merawat identitas budaya di tengah arus modernisasi, serta membuka jalan agar Sarung Samarinda semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional.(TW)
Editor : TW