Home DaerahKota Samarinda300 Penyair Tiga Negara Berebut Ruang Ekspresi di Dialog Serantau Kalimantan

300 Penyair Tiga Negara Berebut Ruang Ekspresi di Dialog Serantau Kalimantan

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Ratusan penyair dari tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, siap menyatukan suara dalam harmoni sastra Melayu yang menggema dari jantung Borneo.

Forum lintas batas negara bertajuk Dialog Serantau Borneo-Kalimantan (DSBK) ke-16, ini bukan sekadar ajang temu sastrawan, melainkan panggung diplomasi budaya yang menjahit kembali tenunan lama bahasa dan sastra Melayu di pulau serumpun.

Kegiatan yang akan berlangsung di Samarinda dan Tenggarong pada akhir Juni 2025 ini digagas oleh Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Timur (DKD Kaltim), dengan usung tema “Sastra Memperkaya Jiwa, Sastra Memperkasa Bangsa: Nusantara dan Penguatan Sastra Melayu”.

Ketua Umum DKD Kaltim, Syafril Teha Noer, mengungkapkan antusiasme peserta sangat tinggi. Bahkan, pendaftaran yang dibuka sejak April lalu membludak hingga menembus angka 300 peserta dari tiga negara.

“Kuota hanya 200, terpaksa kami lakukan kurasi karya sastra. Ini sekaligus membantah anggapan bahwa minat terhadap sastra sedang merosot. Justru sebaliknya, sastra sedang bangkit,” ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Harris Samarinda, Senin (9/6/2025).

Tak hanya diskusi dan presentasi makalah, DSBK XVI juga akan menghadirkan peluncuran dua buku penting, yak i Perbincangan yang memuat kumpulan pemikiran pemakalah, serta Jejak Perigi di Tangga Melayu, antologi puisi dari 150 penyair pilihan yang akan menjadi tonggak dokumentasi perasaan, renungan, dan estetika Melayu kontemporer.

Penyair sekaligus Kepala Balai Bahasa Kaltim, Amien Wangsitalaja, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar tempat kumpul, melainkan medan perlawanan kultural. Menurutnya, sastra hari harus menyentuh relung kesadaran pembacanya.

“Ini ajang penyair berekspresi dengan karya-karya yang jujur, dalam, dan bernas. Sastra bukan sekadar permainan kata, melainkan cermin zaman,” tutur pria yang akrab disapa Cak Amien itu.

DSBK sendiri telah bergulir sejak 1987 dan terus mengalami transformasi nama serta visi. Kini, di tengah tantangan globalisasi dan derasnya budaya digital, DSBK hadir sebagai pengingat bahwa bahasa dan sastra Melayu bukan sekadar warisan, tapi identitas hidup yang harus dirawat bersama.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like