Samarinda, VivaNusantara – Hari itu matahari belum sepenuhnya terik, saat kami bertolak meninggalkan Kota Samarinda sekira pukul 11 siang. Tujuan kami jelas, Pantai Manggar Sagara Sari, salah satu primadona wisata bahari di Kalimantan Timur, tepatnya di Balikpapan Timur. Perjalanan ini bukan hanya tentang pantai, tetapi tentang pulang sejenak ke alam, melalui cara yang lebih membumi, camping.
Perjalanan menuju Balikpapan kami tempuh melalui Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam), jalan bebas hambatan pertama di Kalimantan yang membelah bentang hijau hutan tropis. Mobil melaju tenang melewati kontur lembah dan perbukitan. Beberapa titik kehilangan sinyal ponsel menjadi anomali yang justru menghidupkan percakapan: jeda digital yang langka di dunia serba terhubung.
Selepas tol dan masuk wilayah kota Balikpapan, jalan berkelok menuju pesisir mengantarkan kami langsung ke gerbang Pantai Manggar. Sekitar pukul 14.30 WITA, aroma asin laut menyambut lebih dulu dari visualnya. Kami tiba.
Pantai Manggar Sagara Sari bukan nama asing bagi warga Balikpapan maupun Samarinda. Terletak di Kecamatan Balikpapan Timur, pantai ini berada sekitar 20 kilometer dari pusat kota Balikpapan dan menjadi salah satu destinasi favorit, terutama saat akhir pekan dan hari libur nasional.
Mulai ramai sejak awal tahun 2000-an, Pantai Manggar berkembang dari sekadar pantai nelayan menjadi destinasi wisata keluarga. Pemerintah kota telah menata kawasan ini menjadi lebih ramah wisatawan, dengan akses jalan yang baik, area parkir luas, serta fasilitas umum seperti toilet, musala, warung makan, dan persewaan wahana laut. Namun, di balik semua itu, pesona Manggar tetap sederhana: garis pantai yang panjang, pasir keemasan yang halus, dan ombak yang tenang.
Meski area sekitar Manggar telah dipenuhi deretan vila dan penginapan, kami memilih pengalaman yang lebih dekat dengan alam. Tenda-tenda kami sewa dari Praya Outdoor.
Ia bercerita bahwa usaha penyewaan tendanya awalnya hanya iseng. “Dulu cuma buat sendiri, iseng-iseng aja. Tapi lama-lama kok malah banyak yang minta sewa. Ya udah, saya seriusin,” ujarnya sambil mengecek kelengkapan tenda yang kami pesan.
Saat akhir pekan, Maryani bisa mendapat dua sampai lima penyewa. Namun di hari libur nasional, jumlah itu melonjak tajam. “Kalau lagi rame bisa sampai belasan tenda yang disewa. Kadang saya kewalahan juga,” katanya sambil terkekeh.
Tenda-tenda yang disediakan Praya Outdoor bukan tenda seadanya. Harganya berkisar Rp150 ribu hingga Rp800 ribu tergantung ukuran dan fasilitas, mulai dari matras, meja lipat, lampu LED, hingga kipas portable. Cukup untuk membuat kami merasa seperti tinggal di kamar mungil—hanya saja langit-langitnya adalah langit sungguhan.

Pemandangan senja di Pantai Manggar Sagari Sari. (Foto: Intan)
Menjelang senja, suara gelak tawa dari tenda kami makin riuh. Kami menyiapkan barbeque sederhana dari bahan-bahan yang dibawa sejak dari rumah: sosis, daging sapi, potongan ayam, dan jagung. Semuanya dimarinasi dan siap disantap setelah dipanggang di atas pemanggang portable yang kami bawa sendiri.
Tak ada api unggun malam itu. Hanya lampu-lampu LED kecil yang digantung di tenda dan diterpa angin pantai. Kami menggelar tikar, makan bersama sambil memandang ke laut yang mulai gelap.
Di sekitar kami, anak-anak kecil berlarian, pasangan duduk berdua memandang cakrawala, dan suara tawa terdengar bersahut-sahutan dari arah tenda lain. Pantai Manggar di malam hari seperti panggung sunyi yang diisi harmoni manusia dan alam.
Esok paginya, aroma kopi dari kompor portable membangunkan kami lebih dulu dari sinar mentari. Matahari terbit perlahan dari sisi timur pantai, menciptakan pantulan cahaya yang menari di atas pasir basah. Kami duduk di depan tenda, menyeruput kopi dan membiarkan udara laut menyentuh wajah.
Pantai Manggar, yang sering diasosiasikan dengan wisata keluarga, ternyata punya wajah lain: tempat perenungan, tempat bermain, dan tempat pulang.
Penulis: Intan
Editor: Lisa