Home DaerahKota SamarindaAnak Tukang Urut yang Tak Menyerah: Indah Priana dan Asa yang Pulih Bersama Beasiswa Gratispol

Anak Tukang Urut yang Tak Menyerah: Indah Priana dan Asa yang Pulih Bersama Beasiswa Gratispol

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Di tengah hiruk pikuk penyerahan Beasiswa Pendidikan Gratispol hari ini, ada satu wajah yang tak bisa menyembunyikan senyumnya: Indah Priana, mahasiswa baru Program Studi Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tenggarong.

Baginya, kabar pencairan beasiswa bukan hanya angka dan seremonial. Ini adalah napas baru setelah bertahun-tahun berjuang antara kesehatan, ekonomi keluarga, dan mimpi yang sempat tertunda.

“Seneng banget kak… jadi lebih semangat kuliah dan ngejar cita-cita,” ucapnya, matanya berbinar saat ditemui usai acara Penyerahan Simbolis Beasiswa Gratispol di Gedung Olah Bebaya, Senin (17/11/2025).

Indah bukan mahasiswa baru yang langsung melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA. Ia sempat gap year tiga tahun, bukan karena enggan sekolah, tetapi karena tubuhnya menuntut ia berhenti sejenak. Ia menjalani pengobatan rutin sampai hari ini. Dokter bilang penyakitnya tidak bisa sembuh total, tetapi bisa dikendalikan dengan kedisiplinan minum obat.

“Yang penting jangan telat obat biar nggak makin parah,” katanya pelan. Namun ketegaran dalam suaranya lebih keras dari keluhan apa pun.

Sambil menjaga kesehatan, ia membantu neneknya menjahit di kampung. Dari situlah ia menabung perlahan untuk kembali kuliah.

Awalnya, Indah mendaftar sebagai mahasiswa baru di Universitas Terbuka (UT). Namun langkahnya terhenti di meja pembayaran UKT. Tidak ada uang. Tabungannya habis untuk membantu ayahnya yang sakit.

“Ayah saya tukang urut, jadi penghasilan nggak tetap. Waktu itu UKT bener-bener nggak bisa saya bayar,” kenangnya.

Satu bulan setelah ia berhenti kuliah, muncul kabar beasiswa Gratispol bantuan pendidikan dari semester awal sampai akhir. Kesempatan itu langsung ia kejar. Dan hari ini, Inrah menjadi salah satu penerima resmi.

“Kalau nggak salah saya dapat sekitar empat juta, kurang lebih. Alhamdulillah banget, sangat terbantu.”

Reaksi orang tuanya? Haru bercampur syukur.

“Orangtua seneng karena terbantu. Apalagi kalau merantau kan banyak biaya. Tapi dengan Gratispol ini, banyak yang jadi lebih ringan,” cerita Inrah.

Di balik perjuangannya, Indah juga punya jiwa wirausaha. Ia mendirikan brand kuliner bernama RNI Food, menjual sambal sanga cabe bawang. Bisnisnya sempat berjalan, tetapi berhenti mendadak ketika ia mengalami alergi parah di jari.

“Gak boleh kena sabun, makan yang salah langsung gatal banget. Jadi stop dulu dan fokus kuliah karena masih masa adaptasi,” ujarnya.

Ke depan, ia punya rencana membuka usaha permak baju di Tenggarong, sambil pelan-pelan menghidupkan kembali usaha sambalnya.

“Aku bisa jahit dari umur lima tahun kak,” katanya sambil tertawa kecil. “Sekarang lagi upgrade skill dulu.”

Indah adalah potret dari ribuan mahasiswa Kaltim yang menerima beasiswa Gratispol: anak-anak dari keluarga sederhana, yang punya mimpi besar tapi terhambat biaya.

Namun kisah Indah punya lapisan yang berbeda. Ia tidak hanya melawan keadaan ekonomi, tetapi juga tubuhnya sendiri. Ia bekerja, membantu keluarga, belajar menjahit, mencoba berbisnis, dan kembali bangkit di saat banyak orang seusianya menyerah.

“Hari ini rasanya lega. Semangat buat kuliah, buat ngejar apa yang saya cita-citakan,” katanya mantap.

Beasiswa ini menjadi jalan baru baginya, dan mungkin juga babak baru yang menegaskan bahwa latar belakang bukanlah batas.

Karena pada akhirnya, dari rumah seorang tukang urut, lahirlah seorang anak perempuan yang percaya bahwa pendidikan bisa menyembuhkan sesuatu yang tak terlihat yaitu harapan.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like