Samarinda, VivaNusantara – Di tengah riuhnya media sosial yang menyoroti “Tepuk Sakinah”, sedikit yang menyadari bahwa di balik gerak dan lantunan sederhana itu tersimpan nilai-nilai mendalam tentang kehidupan rumah tangga. Bukan sekadar hiburan dalam sesi bimbingan calon pengantin, Tepuk Sakinah sejatinya adalah metode pembelajaran spiritual yang telah lama digunakan Kementerian Agama untuk menanamkan fondasi keluarga Islami.
Lagu ini muncul bukan tanpa dasar. Ia lahir dari rumusan panjang para ahli psikologi keluarga dan hukum Islam yang merancang cara mudah agar peserta Bimbingan Perkawinan (Bimwin) memahami lima pilar utama keluarga sakinah yaitu prinsip berpasangan, perjanjian kokoh (mitsaqan ghaliza), saling cinta dan menjaga, saling ridha, serta musyawarah. Setiap gerakan dan syairnya memiliki makna tersendiri yang menggambarkan keseimbangan peran antara suami dan istri.
Meski baru belakangan ini viral terutama lewat unggahan di platform seperti TikTok, konsep Tepuk Sakinah sudah diterapkan dalam kegiatan pra-nikah sejak bertahun-tahun lalu. Ia berfungsi sebagai “penyegar suasana” di sela-sela sesi pembinaan yang biasanya berlangsung seharian penuh, bukan bagian dari ritual pernikahan itu sendiri.
Penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Kelurahan Sungai Pinang, Andi Imran Paturusi, menjelaskan bahwa penggunaan Tepuk Sakinah telah menjadi metode edukatif di lingkungan Kemenag. Lagu ini membantu calon pengantin memahami nilai-nilai dasar rumah tangga dengan cara yang lebih ringan namun bermakna. “Bukan untuk dibawakan saat akad, tapi saat pembinaan pra-nikah agar peserta lebih mudah mencerna maknanya,” ujarnya.
Imran menekankan, Kementerian Agama telah mengeluarkan imbauan resmi agar Tepuk Sakinah tidak dinyanyikan pada prosesi akad nikah demi menjaga kesakralan momen. Akad, kata dia, adalah perjanjian agung antara dua insan di hadapan Allah, sehingga suasananya harus penuh kekhidmatan.
Namun di ruang pembinaan, lagu ini menjadi alat refleksi. Setiap lirik mengandung pesan moral yang mengingatkan pasangan bahwa cinta bukan hanya urusan perasaan, tapi juga tanggung jawab, keikhlasan, dan komunikasi dua arah. Misalnya, prinsip mitsaqan ghaliza bukan janji biasa, melainkan perjanjian suci yang harus dijaga sepanjang hidup. Begitu pula dengan musyawarah, pondasi untuk menyelesaikan perbedaan tanpa pertengkaran.
“Kadang peserta datang sudah hafal lagu Sakinah dari internet. Tapi yang terpenting bukan hafalnya, melainkan pemahaman atas setiap kata dan nilai yang dikandungnya,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan perkawinan bukan diukur dari seberapa sering pasangan mengikuti bimbingan, tetapi seberapa dalam mereka memahami nilai-nilai itu. Rata-rata, setiap KUA di Samarinda melayani sekitar 40–50 pasangan setiap bulan. Mereka mengikuti Bimwin reguler selama dua hari, di mana para fasilitator bersertifikat membimbing dengan pendekatan interaktif, termasuk melalui lagu, permainan, dan diskusi nilai-nilai rumah tangga.
Imran juga menyoroti perubahan sikap masyarakat terhadap pernikahan modern. Banyak pasangan muda kini lebih terbuka terhadap pendidikan pra-nikah, bahkan antusias mempelajari konsep keluarga sakinah sejak awal. “Dulu banyak yang menganggap pembinaan itu formalitas. Sekarang justru banyak yang menunggu jadwalnya,” ungkapnya.
Ia meyakini bahwa Tepuk Sakinah viral bukan kebetulan. Justru fenomena ini membuka ruang diskusi baru tentang bagaimana membangun keluarga yang berlandaskan nilai spiritual dan emosional. “Kalau orang bisa tertarik karena videonya lucu, tak masalah. Yang penting, mereka akhirnya tahu bahwa di balik itu ada ajaran mendalam tentang cinta, tanggung jawab, dan saling menghormati.”
Lebih jauh, Imran menjelaskan bahwa keluarga sakinah tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari proses belajar memahami perbedaan. Keluarga yang kuat bukan yang tak pernah bertengkar, tapi yang mampu berdamai setelah badai kecil. “Ketika pasangan saling ridha, saling menghormati, dan selalu bermusyawarah, di situlah sakinah itu tumbuh,” katanya pelan.
Baginya, Tepuk Sakinah hanyalah simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: kesadaran bahwa cinta perlu dijaga dengan nilai-nilai kebaikan. Ia menutup pembicaraan dengan pesan sederhana, “Tepuk Sakinah hanya satu dari banyak cara untuk mengingatkan itu,” tandasnya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya viral, Tepuk Sakinah menjadi jembatan antara kesadaran spiritual dan ekspresi budaya. Ia mungkin terlihat ringan, namun maknanya menyentuh inti dari kehidupan berumah tangga, tentang keseimbangan, kasih sayang, dan kesetiaan yang tumbuh di atas pondasi iman.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa