Home DaerahKota SamarindaDari Marbot Masjid hingga Pengurus Gereja, Bersiap Menapaki Tanah Suci

Dari Marbot Masjid hingga Pengurus Gereja, Bersiap Menapaki Tanah Suci

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Satu persatu janji politik pasangan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Masud dan Wakilnya Seno Aji mulai berjalan tahun ini. Salah satunya program pemberangkatan umroh dan perjalanan religi bagi penjaga rumah ibadah.

Salah satunya penerimanya yaitu Mulyadi, marbot Masjid Baiturrahman di kawasan Sambutan. Sorot matanya tampak berbinar, gugup namun penuh syukur. Di hadapan ratusan orang yang hadir, ia berdiri tegak, meski suara dan tubuhnya sedikit bergetar menahan haru.

“Saya sangat gembira dan bersyukur,” ucapnya lirih, mencoba merangkai kata.

“Saya juga mewakili semua marbot, mudah-mudahan teman-teman yang lain juga bisa mendapatkan ibadah gratis seperti ini,” sambungnya.

Pria 46 tahun yang telah mengabdi menjadi penjaga masjid sejak 2003 itu, akhirnya mendapatkan kesempatan yang tak ia sangka, berangkat umrah atas program apresiasi dari Pemprov Kaltim. Selama 22 tahun menjaga rumah ibadah, tidur di serambi masjid, membersihkan sajadah, dan mengumandangkan azan, kini ia akan menjejakkan kaki ke Tanah Suci untuk kedua kalinya, setelah terakhir kali pada 2014, juga dari bantuan orang lain.

Mulyadi bukan hanya marbot. Ia juga mengajar mengaji anak-anak sekitar, menjadi wajah ramah yang menyambut siapa pun yang datang ke Masjid Baiturrahman.

“Semoga kami para marbot makin diperhatikan,” ungkapnya dengan penuh harap.

Namun hari itu bukan hanya untuk Mulyadi.

Di sisi lain, Meike Walangitan, seorang ibu berusia 56 tahun, pengurus Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Semirna, Karangtunggal, Tenggarong Seberang itu, nyaris tak percaya ketika namanya dipanggil.

“Saya pikir cuma diundang menghadiri acara. Tidak pernah terbayang bisa dipilih. Ini di luar dugaan,” tuturnya dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

Meike akan diberangkatkan ke Yerusalem, mengunjungi situs-situs suci yang selama puluhan tahun hanya bisa ia impikan.

“Saya sudah melayani di gereja selama 32 tahun. Tapi ini pertama kalinya saya akan ke Israel. Saya sangat mengapresiasi program ini. Sangat menghargai karena pemerintah tidak hanya memikirkan satu agama, tapi memperhatikan semua umat,” katanya.

Ia menjadi satu dari segelintir orang terpilih yang membuktikan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk mendapat perhatian dan kasih dari negara.

Program apresiasi ini tak sekadar soal perjalanan spiritual, lebih dari itu, ia adalah simbol keberagaman yang dirangkul, pengabdian yang dihargai, dan sebuah harapan bahwa kasih sayang negara tak melihat warna jubah atau arah kiblat.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like