Home DaerahKota SamarindaGuru Inklusi Beberkan Tantangan Penanganan Anak ADHD dan Pentingnya Sistem Sekolah yang Tepat

Guru Inklusi Beberkan Tantangan Penanganan Anak ADHD dan Pentingnya Sistem Sekolah yang Tepat

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Penanganan Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memerlukan dukungan menyeluruh dari sekolah, keluarga, hingga tenaga profesional.

Guru inklusi di salah satu sekolah di Bandung, Ilma menjelaskan banyak masalah yang muncul bukan karena perilaku “nakal” anak, melainkan karena lingkungan pendidikan yang tidak siap memahami kebutuhan mereka.

Menurut Ilma, sebelum anak memasuki jenjang Sekolah Dasar, sekolah seharusnya melakukan trial kelas dan asesmen awal. Track record dari PAUD atau TK menjadi penting untuk memetakan kebutuhan anak sejak awal, termasuk apakah membutuhkan shadow teacher (guru pendamping).

“Kalau itu tidak dilakukan sejak awal, sekolah akan bingung ketika orang tua menuntut fasilitas tertentu. Guru tidak bisa mengatakan ‘sistem kami seperti ini’ kalau sejak awal tidak melakukan asesmen,” ujarnya.

Ia menegaskan, anak ADHD memiliki pola perkembangan yang berbeda secara neurologis. Ciri yang paling tampak adalah impulsivitas tinggi, sulit menunggu giliran, tidak mampu duduk tenang, dan sering berpindah topik ketika diajak bicara. “Baterai energinya itu beda. Mereka cerdas, daya tangkapnya cepat, tapi agak kesulitan untuk fokus,” katanya.

Pandangan ini sejalan dengan meta-analisis global terbaru yang menemukan prevalensi ADHD sekitar 8,0% (CI 6,0–10%) pada anak dan remaja. Studi ini juga mencatat bahwa ADHD dua kali lebih sering didiagnosis pada anak laki-laki (~10%) dibanding perempuan (~5%) dan bahwa subtype inattentive (ADHD-I) adalah yang paling umum.

Ketika lingkungan tidak memahami kebutuhan tersebut, anak sering dicap sebagai pembangkang atau pengganggu kelas. Padahal tanpa struktur pendampingan, anak berpotensi frustrasi. “Konsep urutan itu hampir tidak ada dalam otak mereka. Kalau disuruh menunggu, mereka bisa langsung naik emosinya.”

Guru inklusi itu menceritakan anak bisa merobek LKS, menulis kata-kata kasar, atau menolak mengerjakan tugas meski ia tahu jawabannya. “Ini bukan malas. Ini impuls yang mengambil alih,” jelasnya.

Mengenai cerita “aku dibully”, “aku ditendang”, atau “aku dipukul”, guru ini menyebut dua kemungkinan. Pertama, kejadian benar terjadi dan harus diselidiki. Kedua, bisa saja anak tidak berbohong, tetapi sensasi yang ia rasakan berlebihan karena persepsi sensoriknya berbeda. “Sentuhan kecil bisa terasa seperti pukulan keras bagi mereka,” ujarnya.

Karena itu, verifikasi melalui saksi, visum, hingga CCTV sangat diperlukan agar sekolah maupun orang tua tidak salah mengambil keputusan.

Ia merinci lima kebutuhan utama untuk memastikan tumbuh kembang mereka tetap aman dan terarah:

1. Terapi regulasi emosi dan interaksi
Anak perlu dilatih mengelola tantrum, impuls, dan perubahan emosi melalui teknik pernapasan hingga penguatan perilaku.

2. Pelatihan keterampilan sosial
Aturan sederhana seperti antri, tidak memotong giliran, atau belajar menunggu harus dilatih secara konsisten.

3. Penyesuaian pola makan dan gaya hidup
Anak ADHD sensitif terhadap gula, tepung, krimer, dan makanan berenergi tinggi. Pola tidur dan aktivitas fisik juga harus teratur.

4. Dukungan penuh dari keluarga dan sekolah
Orang tua wajib konsisten belajar, menyediakan pendampingan, dan bekerja sama dengan sekolah secara terbuka.

5. Pendampingan dari profesional seperti Psikolog
Pendampingan dari profesional ini juga sangat penting agar anak bisa diarahkan dengan baik.

Menurut Ilma, ADHD mungkin tidak “diobati sampai sembuh”, tetapi bisa “dikelola sangat baik” dengan pendekatan yang tepat. Dengan terapi, pemantauan, dan lingkungan yang mendukung, banyak anak ADHD bisa berkembang sedemikian rupa bahwa akhirnya tidak lagi membutuhkan pendamping penuh waktu. “Kalau sistem sekolah, orang tua, dan tenaga profesional menyatu, potensi mereka bisa sangat luar biasa,” pungkasnya.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like