Home DaerahKota SamarindaHarapan Hidup Telah Pupus, Kondisi Psikologis Pasien Gantung Diri Jadi Sorotan Dinkes Kaltim

Harapan Hidup Telah Pupus, Kondisi Psikologis Pasien Gantung Diri Jadi Sorotan Dinkes Kaltim

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Suasana RSUD Abdoel Wahab (AW) Sjahranie kini menjadi kelam, usai seorang pasien ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tergantung. Rumah sakit yang berlokasi di Jalan Palang Merah Indonesia itu, menjadi saksi bisu atas meninggalnya seorang pria lanjut usia yang diduga mengalami depresi akibat penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim), Jaya Mualimin, akhirnya angkat bicara. Sebelumnya diberitakan bahwa pasien tersebut didiagnosis sebagai penderita gagal ginjal, namun setelah dikonfirmasi dari pihak rumah sakit, pasien itu mengidap penyakit kanker (CA).

Dalam pernyataan Jaya, kondisi psikologis pasien dengan penyakit berat sudah seharusnya menjadi perhatian serius. Terutama dari pihak tenaga kesehatan, dalam sistem perawatan yang ada di rumah sakit.

“Pasien seperti itu rentan mengalami gangguan psikologis seperti keputusasaan. Terapinya juga berat, baik fisik maupun emosional. Efek samping seperti kerontokan rambut, rasa sakit berkepanjangan, dan tekanan mental bisa memicu depresi berat,” jelas Jaya Mualimin, menanggapi insiden tragis yang dilaporkan langsung oleh Plt Direktur rumah sakit bersangkutan, Senin (7/7/2025).

Ia menjelaskan, dari sisi medis dan psikologis, penderita kanker kerap merasa kehilangan harapan, terutama jika proses penyembuhan berjalan lambat atau terasa mustahil. Kondisi inilah yang bisa memperburuk suasana batin pasien dan mendorong munculnya dorongan ekstrem.

Meski begitu, Jaya menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa langsung menyimpulkan penyebab pasti kematian. Ia menyerahkan proses penyelidikan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum dan pihak rumah sakit, termasuk melalui hasil visum et repertum yang sedang diproses.

“Kalau dari sisi negatif misalnya ada kemungkinan unsur kesengajaan oleh pihak lain itu tentu ranah aparat penegak hukum. Kita tunggu hasil visumnya,” katanya.

Soal sistem pengawasan di rumah sakit, Jaya menyebut bahwa idealnya pasien rawat inap berada di bawah pemantauan ketat, baik oleh tenaga medis maupun melalui sistem CCTV. Namun, ia mengaku belum mendapatkan informasi detail terkait apakah pasien tersebut dirawat sendirian di ruang inap atau tidak.

“Standar rumah sakit seharusnya jelas, ada perawat jaga dan ada sistem pantauan, termasuk CCTV di area strategis. Tapi apakah saat itu pasien dalam pengawasan atau sendirian di ruangan, kami belum menerima laporan lengkap,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dinas Kesehatan Kaltim akan mengevaluasi sistem perawatan pasien, khususnya mereka yang mengidap penyakit berat seperti kanker. Menurut Jaya, aspek psikososial pasien tidak boleh diabaikan. Tenaga medis tidak hanya dituntut menangani penyakit, tetapi juga menjaga kondisi mental pasien agar tetap kuat menjalani proses pengobatan.

“Ini jadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam pelayanan kesehatan, pendampingan mental pasien itu bagian yang tak terpisahkan dari terapi. Terutama bagi pasien kanker, yang butuh kekuatan lebih dari sekadar fisik,” pungkasnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like