Samarinda, VivaNusantara – Alih-alih membawa perubahan positif, demonstrasi yang dilakukan driver ojek online (ojol) secara damai di Samarinda justru berujung ketidakpastian. Sejumlah driver mengeluhkan sepinya orderan setelah aksi unjuk rasa, bahkan ada yang mengaku tiga hari berturut-turut tak mendapatkan satu pesanan pun.
Salah satu driver, Beng sapaan akrab di kalangan komunitas ojol, mengaku kondisi saat ini lebih berat dari sebelumnya. Sebelumnya dalam sehari, rata-rata dia bisa menerima hingga 10 orderan.
Namun setelah ikut demonstrasi justru membuat orderan kian sepi. “Saya pernah tiga hari pulang tidak bawa uang, nggak ada makan,” ungkapnya, Sabtu (31/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa sistem kerja di platform ojol kini semakin ketat karena diberlakukannya program slot, yang membatasi area dan waktu pengantaran.
“Program slot itu CS (customer) bayar ongkir penuh, tapi kita dibayar Gojek hanya Rp6.000 sampai Rp7.000. Itu pun harus dalam area yang ditentukan, seperti M Yamin, Samarinda Kota, Seberang, atau Loa Bakung. Kalau di luar area itu, ya, kita nggak dapat orderan sama sekali,” jelas Beng.
Untuk mendapatkan bonus, driver diwajibkan memenuhi target order dalam jam-jam tertentu. Tahap pertama, dari pukul 10.00 hingga menjelang sore harus dapat 15 orderan, dikalikan Rp1.500.
Tahap kedua, 21 orderan sampai jam 16.00, dikalikan Rp2.500. Jika tidak memenuhi, hanya mendapatkan Rp6.000 sebagai upah harian.
Belum lagi sistem reguler yang menurut Beng tidak menjamin kenyamanan kerja, meski sudah menerjma semua jenis pesanan. Ia sering menerima orderan fiktif, penjemputan yang tidak sesuai titik, hingga pelanggan yang tidak merespons saat dihubungi.
“Kesusahannya banyak. GoSend sering nggak sesuai titik, pelanggan dicat tidak balas, ditelepon tidak diangkat. Kadang-kadang ternyata fiktif,” ujarnya.
Pasca demo, ia dan banyak rekan sesama ojol berharap perubahan kebijakan benar-benar dirasakan. Namun yang terjadi justru sebaliknya potongan sebesar 20 persen dari setiap orderan masih tetap diberlakukan, dan isu menurunnya daya beli masyarakat makin memperparah kondisi.
“Harusnya dikaji ulang. Yang didemokan tolong betul-betul diperhatikan dan dilaksanakan,” tutup Beng.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa