Samarinda, VivaNusantara – Menjadi daerah langganan banjir adalah stigma yang sulit dilepaskan saat tinggal di Kota Samarinda. Sehingga diperlukan langkah nyata untuk menghadapi tantangan lingkungan yang ada saat ini.
Salah satunya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda dengan menggelar aksi Gerakan Perahu Ketinting Pungut Sampah Sungai Karang Mumus, di Jalan Tongkol, Sabtu (31/5/2025).
Tidak hanya bertujuan membersihkan sungai dari sampah, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memantik kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Sungai Karang Mumus (SKM) merupakan salah satu sungai utama yang mengalir melalui Kota Samarinda. Sayangnya, sungai ini telah lama menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Dalam kegiatan hari ini, ditemukan bahwa sampah plastik mendominasi limbah yang mengotori sungai.
Samarinda telah mengalami beberapa kali banjir besar dalam tahun 2025. Pada 26 Januari 2025, curah hujan ekstrem mencapai 140 mm dalam satu hari, menyebabkan tinggi muka air di Bendungan Lempake naik hingga 8,15 meter. Debit air pun melonjak hingga 70 meter kubik per detik, melimpas ke Sungai Karang Mumus.
Banjir ini berdampak pada 2.980 jiwa di lima kecamatan, dengan 952 kepala keluarga dan 916 bangunan terdampak. Lalu Banjir pada 11–12 Mei 2025 yang disebabkan oleh Hujan deras sepanjang malam mengakibatkan luapan air di kawasan Sempaja, Mugirejo, dan Loa Janan Ilir. Genangan hingga 70 cm menyulitkan aktivitas warga.
Banjir 27 Mei 2025 yang disebabkan oleh Hujan intens disertai pasang Sungai Karang Mumus dan Mahakam menyebabkan banjir di 24 titik dan lima lokasi longsor. Curah hujan tercatat 80–85 mm per jam. Sekolah dan akses jalan utama turut terdampak.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menekankan pentingnya solidaritas dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia menyatakan upaya pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan dan keterlibatan warga.
“Samarinda tidak akan bersih jika tugas kebersihan hanya dibebankan kepada pemerintah. Tapi akan cepat bersih jika kita bisa bekerja sama. Siapa lagi yang kita tunggu untuk menjaga lingkungan, kalau bukan kita sendiri?,” ujarnya.
Gerakan pembersihan sungai ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah bencana yang lebih besar di masa depan.
Dengan demikian, menjaga kebersihan sungai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kewajiban bersama seluruh warga kota.
Penulis: Intan
Editor: Lisa