Samarinda, VivaNusantara – Setiap kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memiki potensi pariwisata yang berbeda-beda. Namun tak semuanya berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Hal inilah yang menjadi fokus Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, dalam menyusun program pengembangan desa wisata yang mulai bergulir pada tahun 2026. Program ini diyakini menjadi langkah konkret dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengatakan bahwa pengembangan desa wisata akan dilakukan secara bertahap dengan target minimal lima desa setiap tahunnya.
“Kami jalankan secara bertahap. Setiap tahun akan ada sedikitnya lima desa yang dibina menjadi desa wisata unggulan,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).
Dalam rancangan awal yang tertuang dalam dokumen resmi Dispar Kaltim bernomor 500.13.2.4/562/DISPAR-IV/2025 tertanggal 14 Oktober 2025, telah ditetapkan 10 desa dan kampung wisata yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Berikut daftar desa wisata yang masuk dalam rancangan tersebut:
1. Kota Samarinda – Kampung Tenun
2. Kota Balikpapan – Kampung Wisata Kang Bejo
3. Kota Bontang – Desa Wisata Bontang Baru Bersinar
4. Kabupaten Paser – Desa Wisata Klempang Sari
5. Kabupaten Penajam Paser Utara – Kampung Wisata Nipah-Nipah
6. Kabupaten Kutai Kartanegara – Desa Wisata Kersik
7. Kabupaten Kutai Timur – Desa Wisata Kaliorang
8. Kabupaten Kutai Barat – Kampung Wisata Linggang Melapeh
9. Kabupaten Mahakam Ulu – Kampung Wisata Batu Majang
10. Kabupaten Berau – Desa Wisata Tanjung Batu
Ririn menjelaskan, dari sepuluh wilayah tersebut, Samarinda dan Bontang akan menjadi prioritas pengembangan pada tahun 2026. Sebab potensi wisata keduanya telah terbentuk, hanya perlu dilengkapi pendampingan, promosi, serta kolaborasi dengan dunia usaha.
Ia menambahkan, pembangunan desa wisata dipilih karena mampu menopang pertumbuhan UMKM di daerah.
“Desa wisata tidak hanya tentang keindahan alam atau budaya, tapi juga tentang ekonomi masyarakat. Ketika desa tumbuh menjadi destinasi wisata, otomatis UMKM-nya ikut berkembang,” kata Ririn.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Dispar Kaltim akan terus bersinergi dengan dinas pariwisata di setiap kabupaten dan kota untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan Dispar kabupaten dan kota menjadi kunci agar pengembangan desa wisata ini berkelanjutan dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Program desa wisata ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan di Kalimantan Timur, sekaligus mendorong terwujudnya desa mandiri yang berdaya saing tinggi.
Penulis: Ain
Editor: Lisa