Home DaerahKota SamarindaSampah Samarinda Dibidik Investor Korea Pembangun PLTSa di IKN

Sampah Samarinda Dibidik Investor Korea Pembangun PLTSa di IKN

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Belakangan ini pengelolaan sampah di Kota Samarinda tengah menjadi sorotan. Terlebih lagi saat ini Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan masih menggunakan sistem open dumping, yaitu sistem pembuangan sampah di tempat terbuka tanpa penutupan, pengamanan, atau perlakuan khusus terhadap sampah.

Namun saat ini sudah ada upaya penanganan dengan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Tak sampai disitu saja, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menjajaki investasi asing untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dengan menggandeng investor asal Korea yang sudah berpengalaman membangun PLTSa di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Tak hanya berfokus pada teknologi tinggi, proyek ini juga ditargetkan sehingga terhentinya efisiensi fiskal dan kecepatan eksekusi. “Dua hingga tiga minggu ke depan aah terbukti, tanpa polusi dan hemat bahan bakar,” ujar Andi Harun, Kamis (3/7/2025).

Dirinya menegaskan bahwa model kerja sama ini jauh lebih rasional dibandingkan skema Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menggunakan potongan dana transfer daerah. “Kami realistis. Mana yang lebih hemat dan cepat, itu yang kami pilih,” tegasnya.

Lebih dari sekedar membangun infrastruktur, Pemkot juga merancang pendekatan sistematis dari hulu. Sistem pemilahan sampah akan dibagi dalam shift kerja berisi 4–5 petugas, yang juga sudah dihitung kisaran gajinya. Ini adalah bagian dari desain besar Samarinda 10 kota terbaik dalam menuju pengelolaan sampah secara nasional pada tahun 2026.

Faktanya, volume timbulan sampah di Samarinda telah menyentuh angka 609 hingga 610 ton per hari. Potensi itu masih bisa meningkat hingga 1.000 ton per hari jika wilayah pedalaman seperti Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Loa Janan Ulu, dan Tenggarong ikut disinergikan.

Tak berhenti di darat, Pemkot juga menargetkan pengelolaan kapal sampah dari jalur udara, termasuk wisata, ponton, kapal barang, hingga kapal induk, di wilayah muara. “Jika PLTSa berdiri, maka sampah-sampah dari kapal pun akan kami kelola,” tandasnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like