Home DaerahKota SamarindaTinjau Kawasan Longsor, TWAP Samarinda Imbau Warga Tak Bangun Rumah di Lereng Tebing

Tinjau Kawasan Longsor, TWAP Samarinda Imbau Warga Tak Bangun Rumah di Lereng Tebing

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Pemerintah Kota Samarinda melalui Tim Wali Kota Akselerasi Pembangunan (TWAP) melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi terdampak longsor. Sebanyak 34 titik longsor terjadi dalam beberapa hari terakhir, termasuk kawasan Jalan Proklamasi RT 52 dan Gang Ibrahim Jalan Gerilya.

Ketua TWAP Syaparudin, menyampaikan bahwa Samarinda merupakan wilayah yang rawan longsor karena kontur tanahnya yang labil dan minimnya vegetasi pengikat tanah.

“Kami hanya ingin mengingatkan warga, terutama yang tinggal di daerah perbukitan atau lereng, agar waspada terhadap potensi longsor, terlebih saat curah hujan tinggi,” ucapnya saat meninjau lokasi longsor di RT 52, Jumat (30/5/2025).

Syaparudin mengimbau agar warga tidak membangun rumah di tebing dan jika hujan lebat melanda, disarankan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pihaknya juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyiapkan tenda pengungsian sementara.

“Di Gang Ibrahim tadi pagi, ada dua rumah yang terdampak langsung, dan masih banyak rumah di bawahnya yang terancam. Kami minta warga mengungsi dulu sambil menunggu kondisi tanah stabil,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua RT 52, Ony Rosita, mengungkapkan bahwa longsor di kawasan Hidup Intensi ini merupakan kejadian pertama yang dialami warga. “Selama bertahun-tahun tinggal di sini, belum pernah ada kejadian seperti ini. Awalnya cuma retakan kecil, tapi lama-lama makin parah. Banyak warga yang trauma,” jelasnya.

Menurutnya, BPBD telah menyatakan bahwa beberapa rumah sudah tidak layak huni untuk sementara waktu. Warga diminta keluar dari rumah mereka untuk menghindari risiko lanjutan, dan sebagian besar telah mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat atau tempat aman lainnya. Bantuan tenda dari BPBD juga telah disalurkan dan digunakan oleh beberapa keluarga.

Kondisi terparah justru terjadi belakangan. Dorongan tanah dari belakang rumah membuat beberapa bangunan mengalami kerusakan berat. Beberapa rumah mulai miring karena tanah penahan bergeser. Perabot rumah tangga pun ikut terdampak, seperti botol-botol yang jatuh akibat guncangan dari pergerakan tanah.

“Mudah-mudahan cuaca makin bersahabat ke depannya, supaya warga bisa beraktivitas dengan normal kembali,” tutup Syaparudin.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like