Samarinda, VivaNusantara — Radikalisme perlahan menyusup ke tengah masyarakat, bukan lagi lewat senjata atau ancaman terbuka, melainkan melalui narasi keagamaan yang dibungkus secara halus. Provinsi Kalimantan Timur, kini menjadi daerah yang mendapat sorotan nasional karena ditetapkan sebagai calon ibu kota negara (IKN).
Sehingga kewaspadaan terhadap ideologi kekerasan ini dinilai semakin penting. Kepala Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, Sufian Agus, menegaskan bahwa gerakan radikal tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dalam senyap dan menyasar fondasi ideologi bangsa.
“Gerakan mereka menyusup pelan-pelan, ingin menggantikan Pancasila, menyebarkan ketakutan dan memecah kepercayaan masyarakat terhadap negara,” ujar Sufian Agus, usai kegiatan Rembuk Merah Putih di Kampus 1 UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Rabu (4/6/2025). Ia juga merupakan Kepala Kesbangpol Kaltim.
Ia juga menyinggung sejarah kelam aksi teror di Indonesia, mulai dari Bom Bali 2002 dan 2005 hingga insiden pengeboman gereja di Samarinda pada 2016, sebagai peringatan bahwa Kaltim bukan daerah yang kebal terhadap ancaman tersebut.
“Justru karena kita dipercaya menjadi ibu kota negara, kita harus jadi contoh dalam menjaga ideologi bangsa. Edukasi dan pencegahan dini sangat penting,” tambahnya.
Sementara itu, Kabid Agama FKPT Kaltim, Ardiansyah yang juga menjadi Kabid Analis Kerukunan Umat Beragama pada Sekjen Kanwil Kemenag Kaltim, menjelaskan bagaimana pola penyebaran radikalisme berawal dari narasi keagamaan yang eksklusif, yang kemudian mengarah pada tindakan terorisme.
“Sehingga, untuk saat ini pemuda harus bisa mengenali pola ini dan menjadi benteng terakhir bangsa,” tutup Ardiansyah.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa