Samarinda, VivaNusantara — Satu bulan telah berlalu sejak publik dikejutkan oleh video pengeroyokan terhadap seorang siswi SD berusia 12 tahun di Samarinda Seberang.
Dalam video yang viral itu, korban terlihat tak berdaya saat dikeroyok oleh sembilan anak perempuan lain di kawasan Polder Air Hitam, Kecamatan Loa Janan Ilir, Jumat (2/5/2025) lalu.
Dunia menyaksikan kekerasan itu dalam diam. Namun ada yang tak terekam oleh kamera, yakni luka batin yang tak terlihat, dan harapan kecil yang terus tumbuh dalam dirinya, keinginan untuk masuk pesantren.
Ketika tim VivaNusantara menyambangi rumah korban, suasana masih menyelimuti duka. Ia tak menyambut kami. Tubuh kecilnya tersembunyi di balik selimut. Matanya enggan menatap. Tubuhnya enggan bergerak.
Kami tidak buru-buru mengajaknya bicara. Kami hanya duduk dan mendengar. Kami tidak ingin membuka lukanya. Kami hanya ingin hadir — sebagai saksi yang peduli.
Lambat laun, ia mulai berani melihat ke arah kami. Lalu terduduk. Tidak lama kemudian, suara kecil itu terdengar. Lirih, tapi jelas.
“Aku pengin mondok… masuk pesantren,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.
Wajahnya teduh. Pendiam, tapi tidak kosong. Dari cara ia bicara, kami tahu: ada kecerdasan yang hidup dalam dirinya, meski sempat ditindih rasa takut.
Ibu korban mengatakan bahwa keinginan untuk mondok bukan muncul akibat peristiwa pengeroyokan itu.
“Dari dulu dia udah sering bilang ingin masuk pesantren,” tuturnya.
Hati orang tua mana yang tidak remuk?
Video kekerasan itu menampilkan aksi brutal para pelaku yang disebut masih sebaya dengan korban. Mereka kini tengah dalam proses pemeriksaan di kepolisian. Tapi pemulihan mental korban tak memakan waktu menunggu hasil laporan.
Alih-alih menyusun rencana masuk SMP, ia pun justru berharap bisa masuk pesantren tempat yang menurutnya lebih teduh dan aman.
Apa yang dialami gadis ini bukan sekadar kekerasan fisik, melainkan luka batin yang mungkin tak akan pernah hilang seluruhnya. Tapi ketika dia mengucapkan mimpinya untuk mondok, kami tahu, dia belum menyerah dalam hidup.
Di dunia yang terkadang tidak aman untuk anak-anak, pesantren di atasnya adalah ruang yang lebih teduh. Tempat untuk menyembuhkan luka. Tempat untuk mengenalkan diri. Tempat untuk memulai ulang.
Penulis: Intan
Editor: Lisa