Samarinda, VivaNusantara – Bagi generasi Alpha, dunia permainan tak lagi menjadi ruang imajinasi belaka, melainkan jendela menuju koneksi global. Salah satu platform yang mewujudkan pengalaman tersebut adalah Roblox, permainan daring yang kini menjelma menjadi lingkungan sosial dan kreatif yang begitu melekat dalam kehidupan digital mereka.
“Teman aku ada yang dari UK, Filipina, Inggris sampai Thailand,” ujar Aqeela, 12 tahun, yang aktif bermain Roblox hampir setiap hari, Sabtu (5/7/2025).
Baginya, Roblox bukan hanya tempat bermain, tapi juga ruang untuk mengenal dunia luar, bertemu orang baru, dan menjalin pertemanan lintas batas.
Meski ia sendiri mengakui banyak kejadian yang tidak menyenangkan seakan lumrah terjadi. Bahkan yang lebih parah seperti pelecehan secara verbal juga kerap terjadi di platform ini.
Namun Aqeela sendiri merasa Roblox tetap menyenangkan karena interaksinya terasa nyata, seperti berbincang dengan teman sekolah dari negara lain. Roblox sendiri adalah platform game online yang memungkinkan penggunanya menciptakan dunia permainan mereka sendiri, lengkap dengan aturan, karakter, bahkan sistem ekonominya.
Pengguna dapat menjelajahi ribuan game berbeda atau yang biasa disebut “map” yang dibuat oleh komunitas Roblox di seluruh dunia. Salah satu map yang kini tengah digemari anak-anak adalah “Grow a Garden,” permainan santai yang mengajak pemain bekerja sama menanam, menyiram, dan merawat kebun dalam suasana yang menyenangkan dan bebas kompetisi.
Namun, popularitas Roblox di kalangan Gen Alpha tidak datang tanpa konsekuensi. Studi dari Walton Family Foundation di Amerika Serikat pada tahun 2024 menunjukkan bahwa anak-anak pengguna Roblox merasa lebih kreatif dan mampu menyelesaikan masalah dengan lebih baik berkat interaksi di dalam platform ini.
Dalam laporan yang sama, sepertiga anak bahkan menyebut Roblox membantu mereka memahami pelajaran sekolah dengan lebih menyenangkan. Hal ini diperkuat oleh penelitian akademik dari Yue Fu dkk. (Cornell University, 2025) yang mengungkapkan bahwa anak-anak menjadikan avatar dalam Roblox sebagai sarana ekspresi diri dan pencarian identitas sosial mereka.
Menariknya, penelitian serupa juga hadir dari Indonesia. Skripsi yang disusun oleh Hazrina Imania (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2025) menemukan bahwa Roblox memiliki pengaruh terhadap regulasi emosi anak usia dini.
Dalam observasinya di wilayah Bogor, beberapa anak usia 5–6 tahun yang intens bermain Roblox menunjukkan kesulitan dalam mengelola emosi, seperti mudah marah atau frustasi ketika kalah dalam permainan.
Di sisi lain, tim dari Universitas Indonesia bahkan menjadikan Roblox sebagai alat edukatif. Dalam sebuah proyek bertajuk Gamifikasi Kota Masa Depan, anak-anak usia 10–12 tahun diajak menggunakan Roblox untuk merancang versi ideal dari Ibu Kota Nusantara, dengan pendekatan keberlanjutan dan inklusivitas.
Hasilnya tidak hanya menunjukkan imajinasi liar anak-anak, tapi juga kemampuan mereka merespons isu lingkungan, ruang terbuka hijau, hingga transportasi publik.
Sayangnya, dunia yang terlihat cerah itu juga menyimpan bayangan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Education Sciences (MDPI, 2023) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen anak pernah menyaksikan atau mengalami bentuk cyberbullying saat bermain Roblox.
Moderasi konten yang belum sepenuhnya kuat, serta sistem obrolan terbuka, menjadi celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab. Di Indonesia, media seperti Radar Malang dan Inibaru.co juga pernah mengangkat kekhawatiran orang tua terhadap maraknya kasus pelecehan verbal yang dialami anak-anak mereka melalui fitur chat Roblox.
Dari sisi waktu dan pengeluaran, Roblox juga menghadirkan tantangan tersendiri. Mayoritas anak-anak menghabiskan 2–3 jam per hari untuk bermain, dan sebagian di antaranya menggunakan uang sungguhan untuk membeli Robux mata uang digital Roblox yang digunakan untuk membeli aksesori, item dalam game, hingga membuka fitur khusus.
Beberapa permainan bahkan mengadopsi sistem loot box atau kotak keberuntungan yang bekerja layaknya judi mini, memunculkan kekhawatiran baru di kalangan orang tua dan pemerhati anak.
Penulis: Intan
Editor: Lisa