Oleh: Rhea Friady
Samarinda – Dalam budaya patriarki, laki-laki menempati posisi yang dominan di berbagai aspek kehidupan, pada ruang lingkup keluarga. Budaya patriaki menempatkan posisi laki-laki sebagai pencari nafkah dan pemimpin keluarga.
Namun fakta saat ini, banyak perempuan yang mangambil alih peran sebagai pencari nafkah utama demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan peran gender pada sosial masyarakat.
Hal ini bisa disebabkan berbagai faktor seperti minimnya penghasilan suami, perceraian, atau kesulitan ekonomi yang membuat perempuan dipaksa untuk bekerja. Pergeseran peran perempuan yang mampu memegang kendali ekonomi, melalui dinamika kekuasaan dalam keluarga dan masyarakat perlahan berubah.
Tingginya partisipasi pekerja perempuan
Data Ketenagakerjaan Perempuan Februari 2025 menyatakan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat menjadi 56,7%, dari data sebelumnya pada februari 2024 sebesar 55,41%. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 14,37% dari seluruh pekerja perempuan merupakan pencari nafkah utama keluarga, dengan posisi terbanyak adalah istri (40,77%).
Perempuan yang berani mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga, secara psikologis akan mudah mengalami tekanan finansial dan mental yang sangat besar. Hal ini dapat memunculkan tantangan baru, seperti konflik peran ganda (perempuan tetap diharapkan mengurus domestik selain bekerja) dan potensi stigma sosial dari komunitas yang masih sangat tradisional.
Munculnya sosok Alpha Female dalam keluarga secara stereotipikal, perempuan alpha merujuk pada perempuan dengan kemauan kuat, dominan, tegas, dan berkualitas dalam memimpin. Sosok alpha female merupakan simbol perjuangan wanita untuk mengambil kendali atas hidup mereka dan meraih kesuksesan di berbagai bidang, dengan menantang norma gender tradisional.
Dampak kehadiran sosok alpha female dalam dinamika rumah tangga bersifat kompleks dan dapat dilihat dari sisi positif maupun negatif, peran alpha female sering kali bertentangan dengan ekspektasi mengenai peran istri yang pasif. Dinamika antar pasangan sangat bervariasi, ketika sepasang suami istri memiliki sifat alpha maka hal tersebut dapat mempengaruhi cara rumah tangga berjalan.
*Mengelola Dinamika Rumah Tangga*
Dalam mengelola sebuah rumah tangga, sangat tergantung bagaimana dinamika yang dihadapi oleh kedua pasangan. Bisa lewat memberikan dukungan serta apresiasi akan menimbulkan rasa dihargai oleh pasangan, terlepas dari siapa yang memegang peran “utama” dalam area tertentu. Komunikasi terbuka tentang kebutuhan dan perasaan pasangan sangatlah penting, sehingga pasangan dapat membagi tugas rumah tangga, keuangan, dan pengasuhan anak berdasarkan kekuatan, minat, dan ketersediaan waktu masing-masing.
Editor Lisa