Home DaerahKota SamarindaBanjir Kiriman dari Pampang Kembali Ganggu Aktivitas Warga Sempaja Timur

Banjir Kiriman dari Pampang Kembali Ganggu Aktivitas Warga Sempaja Timur

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Genangan air yang bertahan hampir sepekan di kawasan Sempaja Timur, kini menjadi anomali tersendiri di Kota Samarinda. Meski tidak separah awal tahun lalu, warga tetap dibuat was-was karena air yang lambat surut.

Banyak yang menduga, persoalan ini tak kunjung reda lantaran drainase dan aliran sungai yang belum sepenuhnya tertangani. Ketua RT 50 Kelurahan Sempaja Timur, Kholil, menjelaskan bahwa banjir kali ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang turun singkat namun deras, hingga menyebabkan debit air meningkat tajam.

Air kemudian tertahan di sekitar jalan dan kawasan luar sungai sebelum akhirnya meluap ke permukiman. Sebab dari tidak adanya hujan susulan, airnya tidak bertambah, akan tetapi debit yang besar itu tertahan di permukaan dan baru mengalir ke sungai setelah lama.

“Dari arah Pampang juga ada tambahan aliran, dan ketika air sungai Mahakam bertemu dengan pasang laut, alirannya jadi melambat, itu yang bikin air naik ke rumah-rumah warga,” jelas Kholil, ketika diikuti pewarta media ini dari lokasi dapur umum menuju RT 50 Sempaja Timur, lokasi pembagian makanan kepada warga, Senin (27/10/2025).

Ia menuturkan, sekitar 60 rumah, di wilayah RT-nya terdampak banjir, terutama yang berada di bantaran sungai. Beberapa rumah sudah ditinggikan, namun akses jalan dan sebagian area pemukiman masih terendam air setinggi lutut.

Kholil mengakui, Pemerintah Kota Samarinda telah berupaya maksimal dengan pengerukan dan perbaikan drainase di beberapa titik. Namun, menurutnya, faktor geografis dan intensitas hujan ekstrem masih menjadi kendala utama.

“Kalau hujannya deras dan air laut lagi pasang, ya pasti air tetap mencari tempat terendah. Di situlah genangan bertahan,” ujarnya.

Sementara itu, seorang warga di Perumahan Bengkuring, yang enggan disebut namanya mengatakan, banjir kali ini tergolong sedang. Rumahnya yang berada dekat jalan utama masih terendam hingga mata kaki, namun aktivitas usahanya tetap berjalan.

“Banjir kali ini kiriman dari arah atas. Untung rumah saya dekat jalan besar, jadi tidak terlalu dalam. Biasanya kalau parah bisa sampai selutut orang dewasa,” tuturnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski banjir sudah menjadi rutinitas musiman di beberapa wilayah Samarinda, dampaknya tetap terasa bagi masyarakat. Ke depan, warga berharap pemerintah dapat memperkuat sistem pengendalian air lintas wilayah, khususnya di daerah aliran sungai yang menjadi jalur utama air kiriman dari Pampang hingga Sempaja Timur.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like