Home DaerahKota SamarindaBanjir Belum Surut, 590 Jiwa Warga Bengkuring di Tengah Air Pasang

Banjir Belum Surut, 590 Jiwa Warga Bengkuring di Tengah Air Pasang

by Redaksi
0 comments

Samarinda,VivaNusantara – Kondisi air pasang membuat sejumlah titik permukiman di Kelurahan Sempaja Timur terendam banjir. Hal ini pun menjadi sinyal serius bagi pemerintah untuk bergerak cepat.

Genangan yang bertahan hingga dua hari bukan hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga menguji ketangguhan sistem tanggap bencana di lapangan. Alih-alih menunggu status tanggap darurat, Lurah Sempaja Timur, Yuliani, membuka dapur umum sejak Minggu (26/10/2025) hingga siang ini, setelah melihat potensi air yang terus naik sejak Sabtu malam, bertepatan dengan puncak pasang Sungai Mahakam.

“Kami ambil keputusan cepat karena air terus meningkat,” ujarnya, di lokasi dapur umum, Kantor Kelurahan Sempaja Timur, Senin (27/10/2025).

Kebijakan ini terbukti tepat, data kelurahan menunjukkan sekitar 150–200 kepala keluarga, atau 590 jiwa, terdampak di lima RT, terutama kawasan Perumahan Bengkuring dan bantaran Sungai Griya Mukti. Di beberapa titik rendah, genangan mencapai 100 sentimeter dan bertahan hingga dua hari.

Menurut Yuliani, banjir kali ini bukan semata akibat hujan deras, melainkan kombinasi air kiriman dari kawasan Pampang dan pasang Sungai Mahakam. “Kalau air sungai sedang normal, genangan cepat surut. Tapi saat pasang, air malah berbalik ke daratan. Ini yang membuat banjir bertahan lama,” jelasnya.

Namun, yang menarik dari penanganan kali ini bukan hanya soal logistik, melainkan sistem yang dibangun, respons cepat berbasis data warga dan kolaborasi komunitas. Dapur umum di Kantor Kelurahan Sempaja Timur dikelola dengan pembaruan data tiga kali sehari melalui grup WhatsApp RT. Setiap laporan mencakup tinggi permukaan air, jumlah KK terdampak, dan kebutuhan makanan aktual.

“Kami kelola seperti sistem monitoring harian. Data pagi, siang, dan malam selalu kami perbarui agar tidak ada bantuan mubazir atau salah sasaran,” terang Yuliani.

Mekanisme sederhana berbasis komunikasi digital ini, meski belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pelaporan resmi, menunjukkan bagaimana adaptasi sosial dan teknologi lokal bisa berjalan efektif dalam kondisi darurat.

“Kami belum punya sistem digitalisasi penuh, tapi grup RT di WhatsApp sudah seperti pusat kendali mini. Dari situ kami bisa tahu titik kritis secara real-time,” tambahnya.

Dari sisi pendanaan, dapur umum ini disokong oleh BPBD Kota Samarinda dan Dinas Sosial, sementara kelurahan berperan sebagai pengaju sekaligus pelapor penggunaan bantuan. Pelaksanaan di lapangan melibatkan 15 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan 12 personel BPBD Kota dan Provinsi, yang bergantian menyiapkan makanan cepat saji untuk warga.

Suasana dapur umum, di Kantor Kelurahan Sempaja Timur, Senin (27/10/2025).
(Foto: Ellysa)

“Kami ingin kelurahan bisa bergerak cepat tanpa menunggu perintah. Kalau warga butuh makan, kami pastikan ada solusi di hari itu juga,” pungkasnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like