Samarinda, VivaNusantara – Produksi limbah harian Kota Samarinda mencapai 600–650 ton per hari. Kondisi ini sudah seharusnya mendorong pemerintah untuk tidak lagi menanggulanginya dengan pendekatan konvensional.
Di tengah kondisi itu, teknologi insinerator kini mencuat sebagai opsi paling realistis, meski tak bebas dari kontroversi dan pertanyaan soal komitmen. Kepala Bidang Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Boy Leonardo Sianipar, mengungkapkan bahwa sejak 2024, wacana kerja sama dengan investor asal Korea Selatan, Mr. Kim, sudah pernah muncul.
Saat itu, konsep yang ditawarkan adalah Refuse Derived Fuel (RDF). Namun, seiring waktu, diskusi bergeser ke pendekatan insinerasi, yaitu pembakaran sampah bersuhu tinggi untuk menghasilkan energi.
“Kalau dulu masih wacana. Tapi tahun ini, saat kunjungan ke TPA, pembicaraan mulai konkret. Arahnya ke insinerator karena dianggap lebih efektif dari sisi konversi energi,” ungkap Boy, Senin (7/7/2025).
Sebagai tahap awal, DLH akan mengoperasikan 10 unit insinerator komunal, masing-masing ditempatkan di kecamatan atau wilayah pinggiran. Namun, Boy mengakui tak semua kecamatan memiliki zona aman atau buffer zone memadai, seperti Samarinda Kota dan Samarinda Ilir.
Karena keterbatasan lahan, penempatan insinerator akan dialihkan ke Kecamatan Sambutan untuk melayani kawasan padat kota. Ini jadi ironi tersendiri masalah sampah kota justru dibebankan ke pinggiran yang masih memiliki ruang.
“Secara teknis, kami kumpulkan penempatan di lokasi representatif. Walau bukan di tengah kota, fungsinya tetap untuk kecamatan padat,” ujarnya.
Satu unit insinerator akan dioperasikan oleh lima petugas empat pemilah dan satu operator utama. Perekrutan tenaga kerja dijadwalkan dimulai bulan ini, bersamaan dengan pelatihan pengoperasian alat. Targetnya, seluruh unit siap beroperasi akhir 2025 atau awal 2026.
Angka 600 ton per hari mungkin terdengar teknis, tapi dampaknya sangat konkret. Jika dalam satu hari armada pengangkut sampah gagal bekerja optimal, maka keesokan harinya kota sudah dibebani oleh tonase ganda. Dalam satu minggu, potensi timbunan bisa mencapai 3.900 ton, nyaris setara dengan total berat 2.000 mobil pick-up penuh sampah.
“Kita tidak boleh telat satu hari saja. Karena keterlambatan berarti krisis di hari-hari berikutnya,” tutup Boy.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa