Samarinda, VivaNusantara — Mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi, tengah menghadapi proses hukum setelah dituduh terlibat dalam kasus dugaan korupsi Rp1,25 triliun terkait akuisisi PT Jembatan Nusantara. Kasus ini menjadi perhatian karena sejumlah institusi memiliki temuan berbeda terkait potensi kerugian negara.
Metode penilaian aset dalam kasus tersebut sempat dipersoalkan. Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai hitungan yang digunakan tidak mencerminkan pendekatan penilaian korporasi. Di sisi lain, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyatakan tidak menemukan kerugian negara, sementara PPATK tidak menemukan aliran dana ke rekening pribadi Ira.
Meski demikian, proses hukum tetap berlanjut dan Ira telah menerima putusan pengadilan terkait perkara tersebut.
Dalam persidangan, Ira menyampaikan bahwa ia tidak melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan.
“Saya tidak korupsi, saya tidak mengambil sepeserpun,” ujar Ira, dikutip dari KumparanNEWS.
Kasus ini turut memunculkan reaksi dari beberapa pihak yang memberikan dukungan moral, termasuk Rhenald Kasali dan influencer sekaligus Founder Malaka Project, Ferry Irwandi. Namun proses hukum tetap menjadi rujukan utama bagi penyelesaian perkara.
Di luar proses peradilan yang sedang berlangsung, perjalanan hidup Ira berangkat dari latar keluarga sederhana di Malang. Ia tumbuh di rumah berlantai tanah dengan kondisi terbatas. Ayahnya yang merupakan anggota TNI AU meninggal saat ia berusia tujuh tahun. Ibunya, yang tidak menamatkan sekolah dasar, membesarkan sebelas anak sambil menekankan pentingnya pendidikan.
“Jujur dan disiplin sekolah, Nak. Kalau kamu berhenti belajar, mau jadi apa?” ujar sang ibu.
Ira kemudian menempuh pendidikan tinggi, meraih MBA dari Asian Institute of Management, Filipina, serta gelar doktor Filsafat dari Universitas Indonesia. Sebelum kembali ke Indonesia, ia berkarier selama 17 tahun di perusahaan fashion Amerika, GAP Inc., hingga menduduki posisi Direktur Asia untuk GAP dan Banana Republic.
Pada 2014, ia diminta kembali ke Indonesia oleh Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan.
“Negeri ini butuh orang sepertimu,” ujar Dahlan.
Ira pun bergabung dengan BUMN. Di bawah kepemimpinannya, ASDP melakukan digitalisasi tiket, perbaikan layanan pelabuhan, dan penataan operasional. Perusahaan juga mencatat peningkatan laba dari Rp326,3 miliar pada 2021 menjadi Rp637 miliar pada 2023, termasuk setelah akuisisi PT Jembatan Nusantara yang menambah 53 kapal dan 53 trayek.
Menteri BUMN Erick Thohir saat itu menyebut ASDP sebagai “operator feri terbesar di dunia.”
Kini, perjalanan karier tersebut berjalan beriringan dengan proses hukum yang masih diperdebatkan di ruang publik. Kasusnya terus bergulir, dan putusan akhir sepenuhnya berada di tangan lembaga peradilan.
Penulis: Ain
Editor: Lisa