Samarinda, VivaNusantara – Satu persatu sekolah rakyat di sejumlah daerah telah berjalan. Namun di Kota Samarinda yang baru berjalan hanya Sekolah Rakyat Terintegrasi Samarinda 24. Lokasinya berada di Gedung Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kaltim, Samarinda Seberang. Itu pun hanya melayani jenjang untuk SMP dan SMA.
Sementara untuk Sekolah Rakyat rintisan tahap 1C yang berdiri di kawasan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda baru akan dimulai. Meski fasilitas bangunan sudah lengkap dan representatif, jumlah siswa di tingkat sekolah dasar (SD), masih jauh dari harapan.
Gedung berkapasitas 100 murid itu dilengkapi ruang kelas, masjid, hingga listrik 33.000 watt. Bahkan, daya tampung makan disebut bisa melayani hingga 280 orang. Namun dari target 50 siswa SD, baru 19 yang mendaftar. Kondisi berbeda justru terlihat di SMP dan SMA yang hampir memenuhi kuota.
Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda, Arif Surochman, menegaskan bahwa operasional sekolah masih menunggu persetujuan resmi pemerintah pusat. “Bangunannya sudah selesai, tapi kami tidak bisa memulai kegiatan belajar tanpa SK dari pusat. Itu aturan yang harus dipatuhi,” ujarnya, belum lama ini.
Minimnya jumlah siswa SD ini dinilai sebagai sinyal bahwa sosialisasi sekolah rakyat masih belum optimal. Namun Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kaltim, Achmad Rasyidi mengaku pihaknya sudah berusaha menjaring calon murid dari berbagai jalur.
“Kami sudah mendatangi panti asuhan swasta maupun keluarga miskin. Kalau kuota SD tetap tidak terpenuhi, sekolah tetap berjalan sambil rekrutmen dilakukan secara bertahap,” ungkapnya, Kamis (11/9/2025).
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Samarinda. Sekolah rakyat rintisan lain di kawasan SMAN 16 Samarinda yang dikelola Pemprov Kaltim juga menghadapi kendala serupa. Target 75 siswa yang dipatok, khususnya untuk tingkat dasar, belum mampu dipenuhi.
Padahal, gagasan sekolah rakyat hadir sebagai solusi keterbatasan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Namun angka pendaftar yang rendah mengindikasikan adanya kesenjangan antara tujuan mulia program dengan penerimaan di lapangan.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa