Home DaerahKota SamarindaPemerintah Dianggap Tutup Mata, Korban Longsor Desa Batuah Demo Gubernur

Pemerintah Dianggap Tutup Mata, Korban Longsor Desa Batuah Demo Gubernur

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Puluhan warga bersama mahasiswa dan aktivis yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Tani Jaya Bersatu, menuntut keadilan atas bencana longsor yang menimpa Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan.

Mereka berkumpul di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur untuk menyuarakan tuntutan yang hingga kini mereka nilai tak kunjung digubris. Sorotan tajam tertuju kepada Gubernur Kaltim yang dinilai lamban, bahkan terkesan abai terhadap penderitaan masyarakat di pelosok.

Koordinator masa aksi, Galang, yang menyampaikan kekecewaannya atas sikap Pemerintah Provinsi yang hingga kini belum turun tangan langsung menyikapi penderitaan warga Desa Batuah. Ia menilai Gubernur Kaltim seperti “pura-pura tidak melihat”.

“Di Batuah, warga kehilangan rumah, tapi pemerintah seolah menutup mata,” tegas Galang lantang, di depan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (2/6/2025).

Kisah memilukan datang dari Wati, salah satu warga terdampak longsor yang menjadi korban kehilangan rumah. Ia mengungkap bagaimana selama lima bulan terakhir hidup mereka berubah drastis, dari tinggal di rumah sendiri menjadi tidur beralaskan tanah bersama anak-anak.

“Sudah lima bulan kami menderita. Rumah kami runtuh. Tidak ada tempat layak. Kami hanya minta satu, tolong bebaskan lahan kami, dan kami mohon perusahaan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Dalam orasi dan pernyataan sikap, massa aksi menyampaikan lima poin utama tuntutan, yaitu:

1. Menuntut hak ganti rugi rumah dan tanah warga yang telah puluhan tahun tinggal di Desa Batuah Tani Jaya, Kilometer 28.
2. Usut tuntas dan cabut izin PT. Barramulti Suksessarana Tbk (BSSR) yang diduga kuat menjadi penyebab rusaknya ruang hidup warga akibat aktivitas pertambangan.
3. Evaluasi menyeluruh terhadap IUP tambang, di Desa Batuah, dan rekomendasi pencabutan izin bagi tambang yang terbukti melanggar aturan, sesuai Permen LH Nomor 4 Tahun 2012.
4. Copot Kepala Desa Batuah, yang dinilai lalai dalam memberikan perlindungan serta antisipasi dampak longsor terhadap warganya.
5. Segera perbaiki jalan provinsi, di Kilometer 28 yang rusak dan memperparah keterisolasian warga terdampak.

Roni, perwakilan dari Aliansi Pemuda Tani Jaya Bersatu, menyampaikan kronologi terjadinya longsor di Desa Batuah yang telah berlangsung sejak Januari 2025. Menurutnya, bencana itu tidak datang tiba-tiba, melainkan diawali dengan retakan-retakan yang semakin membesar.

“24 Januari itu awalnya. Bahkan sebelum curah hujan tinggi, rumah warga sudah mulai retak. Awalnya cuma enam rumah, lalu bertambah jadi 14, dan sekarang sudah 20 rumah terdampak. Sudah lima bulan, dan pemerintah provinsi belum ambil langkah konkret. Ini kenapa kami datang,” tutup Roni.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like