Home DaerahKota SamarindaTren ‘Married is Scary’ hingga Childfree Jadi Tren, PIK R Lawan dengan Akal Sehat!

Tren ‘Married is Scary’ hingga Childfree Jadi Tren, PIK R Lawan dengan Akal Sehat!

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Tren “married is scary” dan pilihan hidup childfree ramai di media sosial. Gen Z, termasuk di Samarinda, mulai ragu soal menikah dan punya anak. Ini dipicu tekanan ekonomi, kecemasan masa depan, hingga belum siap secara mental.

Menjawab keresahan itu, Program PIK R hadir untuk membantu remaja membentuk pola pikir yang lebih sehat dan positif soal kehidupan dewasa.

Kepala Bidang Keluarga Berencana Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Waode Rosliani, menjelaskan keberadaan PIK R bertujuan untuk membentuk kesadaran generasi muda agar mampu mempersiapkan masa depan secara matang.

“PIK R itu bisa merubah mindset mereka. Mereka jadi tahu bagaimana merencanakan dan memprogram kehidupan dengan baik, termasuk dalam pernikahan dan memiliki anak,” ungkap Waode saat ditemui di ruangannya, Jumat (11/7/2025).

PIK R adalah wadah edukatif yang dibentuk oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan dijalankan melalui Dinas terkait di daerah.

Di Samarinda, program ini telah menyasar ratusan pelajar SMA/SMK, mahasiswa, hingga komunitas remaja. Melalui pendekatan peer counselor, PIK R membahas topik-topik krusial seperti kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan berkeluarga, pengembangan diri, hingga pentingnya perencanaan sebelum menikah.

Di era digital saat ini, narasi-narasi negatif seputar pernikahan kerap kali diterima mentah-mentah oleh remaja. Sebagian besar dipicu oleh kurangnya pemahaman mendalam dan minimnya ruang diskusi yang sehat. Inilah yang coba dijawab oleh PIK R bukan dengan doktrin, melainkan dengan pendekatan seumur dan kegiatan edukatif yang bersifat partisipatif.

Implementasi program ini di Samarinda tidak hanya terbatas di sekolah-sekolah, namun juga aktif di lingkungan kampus dan organisasi kepemudaan.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like