Home DaerahKota SamarindaBonus Demografi Terancam, Laju Kelahiran Menurun, Generasi Penerus Jadi Taruhan

Bonus Demografi Terancam, Laju Kelahiran Menurun, Generasi Penerus Jadi Taruhan

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara— Saat banyak pihak berupaya mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, angka kelahiran di Indonesia justru turun drastis. Awalnya dianggap keberhasilan program Keluarga Berencana. Namun fenomena ini justru mulai dikhawatirkan di sejumlah daerah, termasuk Samarinda.

Total Fertility Rate (TFR) atau angka rata-rata kelahiran anak per perempuan di Indonesia saat ini berada di kisaran 2,1 hingga 2,2, mendekati batas pengganti generasi. Bila penurunan terus terjadi, para ahli demografi mengingatkan kemungkinan Indonesia akan menghadapi ancaman demografi serupa seperti Jepang di mana populasi usia produktif menyusut drastis dan beban lansia meningkat.

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kota Samarinda, Waode Rosliani menanggapi kondisi ini dengan hati-hati. Ia menyebut penurunan angka kelahiran yang tidak diimbangi dengan langkah antisipatif justru dapat mengarah pada krisis populasi dalam jangka panjang.

“Kalau tren ini terus menurun tanpa dikendalikan, Indonesia bisa mengalami kondisi seperti Jepang. Penduduk usia produktif menurun, sementara lansia meningkat,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Jumat (11/7/2025).

Waode menekankan pentingnya keseimbangan antara keberhasilan menurunkan angka kelahiran dan menjaga kesinambungan regenerasi. Menurutnya, penurunan angka kelahiran memang dapat membantu mengontrol ledakan penduduk, namun bukan berarti menjadi sinyal untuk mengendurkan perhatian terhadap aspek regenerasi bangsa.

“Kita patut bersyukur karena angka kelahiran berhasil ditekan. Tapi jangan sampai ini menjadi bumerang. Negara bisa kehilangan bonus demografi jika regenerasi gagal terbentuk,” tambahnya.

Data BKKBN juga memperlihatkan sejumlah wilayah, khususnya di Pulau Jawa, sudah memiliki TFR di bawah 2,0 lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan ketimpangan struktur penduduk antardaerah, di mana wilayah lain seperti Papua dan NTT masih mencatat angka kelahiran yang tinggi.

Di tingkat daerah, DPPKB Samarinda juga berkomitmen untuk menyelaraskan program pembangunan keluarga dengan kondisi demografi terkini. Program edukasi keluarga, konseling pranikah, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga muda menjadi salah satu fokus yang terus diperkuat.

“Langkah ini adalah bentuk kesiapan kita menghadapi perubahan zaman. Kita ingin memastikan bahwa keluarga-keluarga di Samarinda tetap kuat, sehat, dan seimbang dalam aspek jumlah dan kualitas,” tutup Waode.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like