Home DaerahKota SamarindaWarga Gunung Kelua Dibuat Resah, Izin Pematangan Lahan Tak Lengkap Kini Berdampak Serius

Warga Gunung Kelua Dibuat Resah, Izin Pematangan Lahan Tak Lengkap Kini Berdampak Serius

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Warga RT 09 Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu, dibuat resah dengan aktivitas pematangan lahan dan pembangunan turap di wilayah mereka. Berdasarkan penelusuran di lapangan, luasan yang mencakup aktivitas pematangan lahan diperkirakan mencapai 6 hektare.

Namun yang baru mengantongi izin pematangan lahan hanya 2 hektare. Tak heran aktivitas tersebut kini dipertanyakan legalitasnya.

Ketua RT 09, Arbani, mengaku hanya diberitahu akan ada kegiatan pembangunan, tanpa penjelasan jelas mengenai peruntukan dan legalitasnya. “Izinnya enggak ada, enggak ada diperlihatkan surat atau legalitas. Saya hanya diberitahu akan ada kegiatan pematangan lahan dan pembangunan turap. Peruntukannya juga belum jelas,” tegas Arbani, Selasa (5/8/2025).

Sejumlah rumah di RT 09 sudah terdampak langsung dari aktivitas proyek tersebut. Ahmad Ucin (38), salah satu penyewa rumah, mengaku khawatir keselamatan keluarganya terancam. Dari 10 rumah yang terkena dampak, empat di antaranya rusak parah, termasuk rumah yang ia tempati.

“Rumah saya sudah miring. Kami was-was setiap tidur, takut tiba-tiba roboh. Sejak mereka mulai bikin fondasi, pergerakan tanah terasa sekali. Tanah di sini kan dulunya rawa, jadi lemah. Begitu ada pekerjaan ini, langsung terasa perubahan,” ujarnya dengan nada cemas.

Senada, Nunung, warga lain, mengaku setiap malam diliputi rasa takut saat beristirahat. “Was-was saja tiap malam. Takut kalau tanah bergerak lagi, rumah bisa ikut ambruk,” ucapnya.

Eko, warga RT 09 lainnya, menilai dampak ini sebenarnya bisa diprediksi. Menurutnya, cara pengurukan tanah yang dilakukan kontraktor otomatis menimbulkan tekanan yang mendorong lumpur keluar dan menyebabkan pergeseran tanah di sekitar rumah warga.

“Logikanya begitu fondasi dipasang dan tanah di atas diuruk, lumpurnya keluar, otomatis tanah ngangkat. Dampaknya belum kelihatan semua, tapi yang rumahku bukan tanah rawa saja sudah terasa. Kami bukan ahli proyek, tapi paham risikonya,” jelasnya.

Eko menambahkan, warga tidak keberatan dengan adanya pembangunan, asalkan tidak menimbulkan dampak negatif. “Kita senang ada pembangunan, tapi jangan sampai rumah kami jadi korban. Yang kami tunggu tanggapan resmi dari pemilik lahan. Sampai sekarang belum ada,” tutupnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like