Ranking ASEAN: Myanmar Paling Korup, Singapura Paling Bersih — Indonesia Harus Jawab Tantangan Investasi
Denpasar, VivaNusantara – Indonesia kembali menjadi sorotan tajam dunia. Berdasarkan Corruption Perceptions Index (CPI) 2024 dari Transparency International, Indonesia mencatat skor rendah 37/100 dan menempati peringkat ke-99 dari 180 negara secara global. Dalam konteks ASEAN, posisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara ke-6 paling korup, hanya lebih baik dari Myanmar, Kamboja, Filipina, Laos, dan Thailand, sementara Vietnam, Timor Leste, Malaysia, serta Singapura mencatat skor jauh lebih baik. Data ini kembali diungkap Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI, Ribka Haluk, dalam entry meeting pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2025 di lingkungan Dirjen Pemeriksaan Keuangan Negara VI, siang ini, Kamis (12/2/2026) di Denpasar, Bali.
Urutan negara ASEAN menurut CPI 2024 menunjukkan pola ketimpangan kesejahteraan dan tata kelola publik di kawasan ini:
Myanmar – skor 16 (paling korup)
Kamboja – skor 21
Filipina – skor 33
Laos – skor 33
Thailand – skor 34
Indonesia – skor 37
Vietnam – skor 40
Timor Leste – skor 44
Malaysia – skor 50
Singapura – skor 84 (paling bersih).
Korupsi Bukan Sekadar Persepsi — Ini Implikasi Nyatanya
Skor CPI menggambarkan persepsi terhadap tingkat korupsi di sektor publik, tetapi persepsi tersebut memiliki dampak nyata terhadap investasi domestik dan asing.
Penelitian akademik menunjukkan hubungan negatif antara skor CPI rendah dengan realisasi Foreign Direct Investment (FDI). Artinya, semakin tinggi persepsi korupsi, semakin rendah minat investor asing untuk masuk, karena mereka melihat risiko bisnis yang lebih besar.
Lebih nyata lagi, lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negative karena kekhawatiran atas tata kelola pemerintahan yang tidak transparan dan ketidakpastian kebijakan — yang pada akhirnya bisa menekan kepercayaan investor global.
Penurunan outlook ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap investability Indonesia, bahkan sempat memicu kerugian pasar saham besar setelah indeks MSCI memperingatkan potensi keluarnya Indonesia dari indeks pasar berkembang.
Risiko Reputasi & Kapital Internasional
Investor global selalu mengevaluasi negara berdasarkan tiga pilar utama sebelum memutuskan aliran modal: stabilitas politik, kepastian hukum, dan tata kelola yang bersih.
Ketika Indonesia dipandang masih rawan korupsi — setidaknya oleh indeks global — maka:
Biaya modal meningkat karena investor menuntut premi risiko lebih tinggi
Aliran FDI melambat dibanding negara tetangga dengan skor CPI lebih tinggi
Proyek jangka panjang terhambat karena ketidakpastian regulasi dan risiko praktik tidak transparan
Efeknya bukan sekadar angka di laporan — ini memengaruhi lapangan kerja, ekspansi industri, dan daya saing ekonomi Indonesia di mata global.
Tantangan Tata Kelola dan Investasi
Korupsi yang masih tinggi turut memengaruhi persepsi terhadap sistem hukum dan birokrasi, serta dapat menambah biaya transaksi ekonomi. Hal inilah yang membuat beberapa investor memilih negara dengan skor CPI lebih baik, seperti Malaysia, Vietnam, atau terutama Singapura, yang skor 84 menunjukkan tingkat korupsi versi persepsi jauh lebih rendah. (TW)
Editor : TW