Home Berita NusantaraSarung Samarinda, yang Tidak Mau Dilipat oleh Zaman

Sarung Samarinda, yang Tidak Mau Dilipat oleh Zaman

by Redaksi
0 comments

Jakarta, VivaNusantara – Sarung tidak pernah bersuara keras. Ia dilipat rapi, dikenakan dengan tenang, dan bekerja dalam diam. Namun Kamis siang (8/1/2026) di Hall Dewan Pers, Jakarta, sarung dalam makna simboliknya hadir lebih awal daripada para kepala daerah. Ia datang sebagai ingatan kolektif, sebagai penanda identitas, menunggu, apakah kebudayaan akan diberi ruang hidup dalam kebijakan.

Para kepala daerah memasuki ruang hall diiringi tarian tradisional dari Nusa Tenggara Timur. Gerak yang pelan namun berakar, seolah mengantar mereka dari dunia administratif menuju ruang refleksi. Suasana formal, tetapi santai. Cukup untuk menandai bahwa kebudayaan memang hadir, tanpa perlu berteriak.

Agenda pengundian nomor urut dan persiapan presentasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 mungkin tampak teknis. Namun bagi para kepala daerah, inilah awal dari pertarungan yang lebih sunyi, bagaimana menjelaskan budaya bukan sebagai program, melainkan sebagai cara hidup.

Sarung yang Tidak Pernah Pergi

Di antara para peserta, Wali Kota Samarinda Andi Harun memilih mengangkat tentang Sarung Samarinda, yang selama ini hidup di rumah warga, di masjid, di pasar, dan di ruang-ruang sosial kota tepian Mahakam.

Wali Kota Samarinda Andi Harun berfoto bersama Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Kota Samarinda dan jajaran PWI Kalimantan Timur, menandai pertemuan antara kebijakan, pendidikan, dan kebudayaan dalam rangkaian Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Foto : Lefi

“Sarung Samarinda adalah identitas kota. Ia merepresentasikan etika sosial, simbol kesantunan dan religiusitas, sekaligus ruang hidup ekonomi bagi penenun tradisional,” ujarnya, di sela-sela pengambilan nomor urut.

Menurutnya, sarung itu tidak disimpan di etalase sejarah. Ia dikenakan, diperjualbelikan, diwariskan. Ia berdenyut bersama ekonomi rakyat. Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah kota tidak hadir untuk menciptakan kebudayaan baru, melainkan memastikan yang telah hidup tetap bermartabat dan berkelanjutan.

Budaya yang Menyentuh Tanah

Samarinda dan Pilihan yang Sunyi

Di antara berbagai daerah dengan kekayaan tradisi masing-masing, Samarinda tidak tampil dengan hiruk-pikuk. Kota ini memilih ketenangan merawat yang sudah ada.
Sarung Samarinda tidak diposisikan semata sebagai komoditas, juga tidak dikurung sebagai artefak. Ia dibiarkan hidup dan di situlah keberanian kebijakan diuji.

Pengundian nomor urut hari itu hanyalah awal. Namun bagi Samarinda, ujian sesungguhnya telah lama berlangsung, menjaga agar identitas tetap bernapas di tengah perubahan zaman.

Di ruang hall Dewan Pers, ketika kebudayaan dan kebijakan saling menatap, sarung kembali mengajarkan satu hal penting, bahwa yang paling kokoh bukanlah yang paling lantang, melainkan yang paling setia dirawat.

Penulis : Tri Wahyuni
Editor : Tri Wahyuni

You may also like