Samarinda, VivaNusantara – Peranan influencer di Provinsi Kalimantan Timur kembali mendapat sorotan. Di tengah upaya melakukan penghematan anggaran, Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim justru menyiapkan anggaran Rp1,7 miliar untuk menggandeng influencer.
Tentunya dengan mekanisme seleksi yang jauh lebih ketat dibanding sebelumnya. Dalam rencana tersebut, sekitar 20–30 influencer akan dilibatkan dalam program promosi pariwisata 2025. Namun, jumlah tersebut masih bisa berubah menyesuaikan hasil seleksi dan kebutuhan destinasi yang diprioritaskan.
Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kaltim, Restiawan Baihaqi, menekankan bahwa influencer yang akan dipilih tidak bisa sembarangan. Mereka wajib berbadan hukum, baik melalui perusahaan, agensi, maupun lembaga resmi, agar kerja sama yang terjalin memiliki dasar legal dan profesional.
“Selama ini influencer kerap dipahami hanya sebatas jumlah followers. Padahal yang kami butuhkan adalah mereka yang punya rekam jejak, kredibilitas, dan kemampuan menghadirkan konten berkualitas. Jadi tidak bisa asal tunjuk,” tegas Restiawan, Rabu (17/9/2025).
Lanjut Restiawan, seleksi akan mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari kualitas konten, relevansi dengan pariwisata, hingga dampak nyata promosi. Ia mencontohkan, jika destinasi Labuan Cermin dipromosikan, maka influencer harus hadir langsung di lokasi, membuat konten otentik, dan menyajikan narasi yang benar-benar meyakinkan audiens.
“Promosi wisata itu tidak bisa dilakukan setengah hati. Kalau kontennya hanya tempelan, dampaknya minim. Kami ingin setiap rupiah anggaran punya hasil konkret bagi kunjungan wisata,” ujarnya.
Era digital telah mengubah cara daerah memasarkan pariwisatanya. Media sosial kini menjadi wajah utama yang pertama kali dilihat wisatawan sebelum memutuskan datang. Oleh sebab itu, Dispar Kaltim tidak ingin hanya bergantung pada media konvensional, melainkan mengkombinasikan seluruh kanal mulai dari media daring, cetak, radio, hingga influencer.
“Promosi itu harus masif dan berlapis. Influencer berperan sebagai corong ke publik yang lebih luas, tapi media lain tetap punya perannya masing-masing. Semua harus berjalan seiring,” tutupnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa