Home DaerahKota SamarindaKaltim Kekurangan Petani Muda, Modernisasi Alsintan Terancam Mandek

Kaltim Kekurangan Petani Muda, Modernisasi Alsintan Terancam Mandek

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Regenerasi petani kini menjadi tantangan serius di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Meski pemerintah daerah gencar menyalurkan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mempercepat modernisasi, jumlah petani muda yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut masih sangat terbatas. Kondisi ini dikhawatirkan membuat mekanisasi hanya menjadi program tanpa dampak nyata.

Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Sigit Wibowo mengatakan bahwa pertanian tak seharusnya dipandang sebelah mata, karena bisa menjadi ruang baru bagi generasi muda. Menurutnya, jika sektor pertanian terus didominasi petani usia lanjut, modernisasi akan terhambat karena teknologi tidak diimbangi kemampuan operator.

“Kalau anak-anak muda bisa pakai alat canggih, tentu mereka tidak segan untuk bertani,” ujar Sigit, Jumat (21/11/2025).

Ia menegaskan, banyak pemuda sebenarnya tertarik pada pekerjaan berbasis teknologi. Namun, minimnya pelatihan dan dukungan membuat mereka tidak percaya diri terjun ke pertanian.

Ia menyarankan pemerintah memperbanyak pelatihan mekanisasi serta menyediakan insentif seperti subsidi dan kredit lunak agar anak muda tertarik membeli atau mengelola alat modern.

“Tanpa dukungan semacam itu, banyak petani muda akan mengurungkan niat untuk modernisasi,” tambahnya.

Sementara, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, Dyah Adiaty Yahya, mengakui mayoritas petani di Kaltim kini berusia lanjut. Hal ini membuat banyak alsintan yang sudah disalurkan pemerintah tidak digunakan secara maksimal.

“Alatnya mungkin boleh modern, tapi penguasaan mereka terhadap alat itu yang memang mungkin masih kurang,” ujarnya.

Dyah menjelaskan, kehadiran generasi muda menjadi kunci dalam keberlanjutan dunia pertanian Kaltim. Ia mengusulkan pengelolaan alat tidak lagi diberikan perorangan atau langsung ke kelompok tani, melainkan melalui Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) yang dioperasikan anak-anak muda desa. Dengan begitu, alsintan benar-benar menjadi layanan profesional berbasis teknologi.

“Alat itu dikerahkan ke UPJA. Nanti UPJA itulah yang kita panggil kalau mau mengelola lahan, kita tinggal bayar,” jelasnya.

Dyah berujar jika diterapkan secara luas, model tersebut bukan hanya memberi solusi mekanisasi, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru di desa. Pemuda yang menguasai teknologi pertanian bisa berperan sebagai operator, teknisi, hingga manajer jasa alsintan.

“Modernisasi akhirnya hadir bukan hanya lewat alatnya, tapi juga melalui pelaku pertaniannya,” Pungkasnya.

Kaltim sejatinya memiliki peluang besar membangun sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi baru selain pertambangan. Namun tanpa regenerasi petani, peluang tersebut terancam hanya menjadi wacana. Pemerintah daerah kini ditantang mempercepat lahirnya petani-petani muda yang tidak hanya memegang cangkul, tetapi juga mengendalikan mesin modern dan mengelola pertanian sebagai bisnis masa depan.

Penulis: Ain
Editor: Lisa

You may also like