Home DaerahKota SamarindaPsikolog : 68% Gen Z Buta Finansial, FOMO Jadi Jalan Masuk Pinjol

Psikolog : 68% Gen Z Buta Finansial, FOMO Jadi Jalan Masuk Pinjol

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Gaya hidup kekinian ternyata bisa membawa banyak anak muda pada masalah baru: jeratan pinjaman online (pinjol). Fenomena ini semakin terasa di kalangan generasi Z, yang kerap tergoda berutang bukan untuk kebutuhan mendesak, melainkan demi mengikuti tren dan rasa takut ketinggalan alias fear of missing out (FOMO).

Psikolog Yulia Wahyu Ningrum menilai, pengaruh media sosial sangat kuat membentuk pola konsumsi Gen Z. “Rata-rata mereka pinjam karena FOMO. Lihat baju bagus, nongkrong di café hits, atau barang tren saat scrolling medsos. Padahal secara ekonomi belum mampu, akhirnya mereka memilih pinjol,” jelasnya saat menjadi narasumber di Vinus Bersuara, Rabu (17/9/2025).

Menurut Yulia, iklan pinjol yang dirancang menarik juga memperburuk keadaan. “Iklannya natural, keren, dan gampang masuk ke anak muda. Sayangnya, pemerintah tidak cukup sigap melindungi mereka dari jebakan itu,” tegas Direktur Biro Psikologi Mata V Hati tersebut.

Selain faktor sosial, rendahnya literasi keuangan ikut menjadi pemicu. “Sekitar 68 persen Gen Z tidak paham soal keuangan. Mereka pikir bunga pinjol kecil, padahal kalau dihitung bisa lebih besar dari pinjaman pokoknya sendiri,” tambah Yulia.

Data pun memperkuat kekhawatiran ini. Survei Jakpat 2024 mencatat, 34 persen Gen Z di Indonesia pernah menggunakan pinjol, dengan 61 persen di antaranya untuk kebutuhan konsumtif seperti gadget. Bahkan OJK mencatat, kelompok usia 19–34 tahun mendominasi kredit macet pinjol hingga puluhan triliun rupiah per Maret 2025.

Dari sisi hukum, advokat Tri Wahyuni menekankan pentingnya komunikasi keluarga. Menurutnya, orang tua tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan juga perlu hadir mendampingi anak.
“Orangtua harus terbuka dengan anak. Misalnya anak saya sudah kenal skincare, saya arahkan sesuai kebutuhan. Jangan sampai anak sekolah menuntut skincare mahal. Kalau dibiarkan, kebutuhan mereka bisa melampaui kemampuan usianya,” ujar Yuni.

Ia menegaskan, pembatasan sejak dini dan pendidikan soal prioritas kebutuhan adalah kunci agar Gen Z tidak terjerumus perilaku konsumtif yang berujung jerat pinjol.

Penulis : Intan
Editor : TW

You may also like