Samarinda, VivaNusantara – Sudah puluhan tahun gedung eks Plaza 21 di Citra Niaga menjadi aset yang tidur. Meski lokasinya berada di jantung kota, namun bangunan tua itu belum juga difungsikan, selain bagian basement yang kini dimanfaatkan menjadi tempat parkir kendaran.
Rencana pemanfaatan bangunan itu sebenarnya sudah berkali-kali digaungkan oleh Pemkot Samarinda. Bahkan sempat ada calon investor yang melirik gedung tersebut untuk disulap fungsinya menjadi hotel. Namun hal itu hanya berakhir pada usulan tanpa tindak lanjut.
Hingga ada muncul rencana baru lagi dari Pemkot Samarinda mengalihfungsikan gedung tersebut menjadi fasilitas parkir terpadu. Namun, Wali Kota Samarinda Andi Harun menyoroti tingginya nilai anggaran yang dipaparkan konsultan perencana.
Terdapat dua opsi yang diajukan. Pertama, membongkar total bangunan lama lalu membangun struktur baru tiga lantai dengan nilai Rp67 miliar. Kedua, mempertahankan struktur lama empat lantai ditambah satu basement dengan penguatan di titik-titik tertentu. Opsi kedua ini membutuhkan anggaran sekitar Rp55 miliar.
Bagi Andi Harun, angka tersebut masih terlalu tinggi. Ia membandingkan dengan rencana awal saat Plaza 21 sempat diminati investor swasta untuk dijadikan hotel. Kala itu, kebutuhan investasi hanya sekitar Rp35 miliar, meski dengan konsep berbeda.
“Dulu, investor swasta merencanakan Plaza 21 dijadikan hotel dengan 119 kamar plus parkir tiga lantai, dan nilai investasinya Rp35 miliar. Sekarang untuk gedung parkir saja bisa tembus Rp55 sampai Rp67 miliar. Saya kira ini masih terlalu mahal,” tegas Andi Harun, Senin (15/9/2025) malam.
Ia menyadari perbedaan mendasar antara investasi swasta dan proyek pemerintah, terletak pada harga. Sebab pada proyek pemerintah cenderung lebih tinggi karena memperhitungkan keuntungan kontraktor pemenang. Sehingga orang nomor satu di Samarinda itu menekankan perlunya kajian lebih matang agar biaya tidak membebani APBD.
“Saya minta agar dua minggu lagi dipaparkan ulang. Angkanya harus benar-benar mencerminkan kepatuhan pada aturan sekaligus rasional secara teknis. Kalau struktur lama masih bisa dipertahankan, mengapa harus dibongkar total? Itu bisa menekan biaya cukup signifikan,” lanjutnya.
Lanjut Andi Harun, opsi yang lebih realistis adalah melakukan penguatan struktur pada titik penting, perbaikan fasad luar, serta peremajaan interior agar fungsional sebagai gedung parkir. Dengan begitu, bangunan lama tidak sepenuhnya hilang, dan biaya bisa ditekan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan gedung, tetapi bagian dari upaya Pemkot mengatasi masalah klasik di Samarinda: kekurangan lahan parkir di pusat kota.
“Kita ingin gedung parkir ini benar-benar solutif, bukan sekadar proyek fisik dengan biaya membengkak. Harus ada keseimbangan antara fungsi, keamanan, dan efisiensi anggaran,” tandasnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa