Banda Aceh, VivaNusantara — Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Provinsi Aceh turut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan bagi penyintas banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Selain menyalurkan bantuan, FJPI Aceh hingga kini masih membuka donasi untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Ketua FJPI Aceh, Saniah LS, mengatakan uluran tangan bagi para penyintas masih sangat dibutuhkan. Keterlibatan FJPI Aceh merupakan wujud kepedulian jurnalis perempuan, tidak hanya melalui pemberitaan, tetapi juga aksi nyata di lapangan.
“Kami merasa bertanggung jawab untuk membantu, tidak hanya lewat pemberitaan, tetapi juga dengan membuka donasi sebagai perpanjangan tangan dari masyarakat,” tegas Saniah.
FJPI Aceh dijadwalkan menyalurkan bantuan donasi tahap keempat pada Sabtu (17/1/2026). Penyaluran bantuan akan difokuskan di Desa Paya Rebo Lhok, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, disertai kegiatan pemeriksaan kesehatan lansia serta layanan psikososial bagi anak-anak, bekerja sama dengan tenaga kesehatan.
Saniah menyebutkan, warga penyintas di sejumlah desa masih menghadapi kesulitan pascabencana, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga sumber penghidupan. Di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, sebagian warga masih membersihkan sisa lumpur, bertahan di posko pengungsian, atau tinggal di tenda darurat di halaman rumah yang hilang diterjang banjir.
“Sebagian masih mengungsi di posko, ada juga yang bertahan di tenda di halaman rumah yang hanyut. Namun mereka tetap berusaha bekerja, berdagang, hingga menjadi buruh kupas pinang,” ungkap Saniah.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025 tercatat berdampak pada 18 kabupaten/kota di Aceh. Selain kehilangan anggota keluarga, warga juga kehilangan rumah, harta benda, kebun, ternak, hingga tempat usaha.
Sejak sepekan pascabencana, FJPI Aceh membuka donasi dan telah menyalurkannya ke sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Aceh Utara.
“Terima kasih FJPI Pusat dan orang-orang baik dari Papua hingga Aceh. Kami masih membuka donasi karena para penyintas masih membutuhkan uluran tangan untuk benar-benar pulih,” kata Saniah.
Jurnalis Perempuan Turut Terdampak
Bencana ini juga dirasakan langsung oleh sejumlah anggota FJPI Aceh di berbagai daerah, seperti Aceh Singkil, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Utara.
Reporter RRI Aceh Singkil, Eva Basaria, mengaku harus tetap meliput di tengah kondisi keluarganya yang terdampak.
“Saat bencana terjadi, saya tetap harus meliput. Sementara saya dan keluarga terpaksa mengungsi ke rumah tetangga karena rumah kami sudah terendam air hampir setengah dada orang dewasa,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Zuhra, wartawan LintasGAYO.co di Aceh Tengah, yang bersama keluarganya menghadapi keterbatasan tempat mengungsi akibat kondisi yang tidak memungkinkan.
Kondisi Lapangan Belum Pulih
Ketua Divisi Pelatihan FJPI Aceh, Indah, yang sempat menjadi relawan di lokasi bencana Aceh Tamiang, menyebut kondisi sebulan lebih pascabencana masih belum sepenuhnya pulih.
“Di sejumlah lokasi masih terisolir. Akses jalan belum terbuka, sekolah dan rumah ibadah belum berfungsi optimal,” kata Indah.
Ia menambahkan, trauma masih dirasakan warga setiap kali hujan turun karena kekhawatiran banjir susulan. Banyak anak-anak masih bersekolah di tenda dengan fasilitas seadanya.
“Bantuan logistik tetap dibutuhkan, namun yang lebih krusial adalah penyelesaian dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Harapan masyarakat kini tertuju pada percepatan pembangunan akses jalan dan jembatan, pemulihan sekolah dan rumah ibadah, perbaikan sawah serta ladang, hingga pendataan dan pembangunan hunian tetap, agar kondisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat kembali pulih.
Penulis: Nurul Ali
Editor: Tri Wahyuni